Sebelum Curhat kepada Seseorang, Perhatikan Dulu Hal Ini

Jabarekspres.com – Sebagai makhluk sosial, sangat manusiawi jika ada kebutuhan untuk menjalin interaksi misalnya seperti curhat. Hal itu memberikan rasa aman, tenang, pun rasa bahagia.

Ketika seseorang curhat tentang masalahnya kepada orang lain, sebelum direspons lawan bicaranya pun, itu sudah membantu.

Saat orang yang mendengar curhat bisa menanggapi dari perspektif berbeda. Namun, sebelum menceritakannya, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Berikut ini beberapa pertimbangan sebelum melakukan curhat yang dilansir dari laman Jawapos.com

1. Cerita kepada Siapa

Perhatikan kepada siapa, kapan, dan di mana. Terlebih jika yang dibicarakan hal sensitif, tentu harus lebih selektif. Pilih orang yang bisa dipercaya, jangan kepada orang yang mudah menyebarluaskan kepada yang lainnya.

Kedua, banyak situasi bahwa orang curhat bukan untuk dihakimi, tetapi lebih ingin menyampaikan isi hati. Kalau ada kecenderungan lawan suka nge-judge, bakal tidak mengenakkan.

Kita juga harus lihat, orang yang dicurhatin itu dalam kondisi seperti apa. Bisa jadi, dia juga dalam keadaan sedih, berduka, kan nggak pas.

2. Waktu

Pilih waktu yang tidak terburu-buru, yang sekiranya cukup untuk ngobrol. Dipersiapkan saja waktu yang bisa santai.

Tidak sedang memikirkan hal lain, jadi bisa fokus pada isinya serta memikirkan solusinya bersama-sama. Boleh banget untuk bikin janji dulu agar sama-sama menyediakan waktu.

Misalnya, “Aku mau curhat nih. Nanti malam atau besok ada waktu nggak?” Jadi, kedua pihak memang mengalokasikan waktu untuk sesi tersebut.

3. Batasan

Hal-hal apa yang masih “aman” diceritakan? Yang nggak bikin risi. Biasanya, setiap orang punya batasan privasi masing-masing.

Seberapa jauh. Tetapi ketika menyangkut orang lain, kita harus mempertimbangkan kerahasiaan. Misalnya, kita punya masalah dengan si A. Ketika kita cerita kepada orang lain, kan belum tentu si A berkenan hal-hal tentangnya diketahui orang lain. Membuka rahasia atau bahkan aib orang lain itu melanggar etika.

Terkait pasangan, misalnya istri curhat kepada sahabat perempuannya tentang masalah privasi suaminya. Suami sering kali tidak berkenan. Begitu pun sebaliknya. Seandainya istri merasa perlu curhat, bisa curhat kepada ahlinya. Tidak semua detail dibeberkan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan