Pidi Baiq Respon Kanal Budaya Indonesiana, Ini Katanya

BANDUNG – Seniman Pidi Baiq mengapresiasi kanal budaya Indonesiana yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknolog (Kemendikbudristek).

“Bagus kalau ada program seperti itu. Walaupun seringkali program pendidikan dan kebudayaan tidak tersampaikan secara baik, karena kadang-kadang tidak tepat dengan apa yang dimaui oleh mereka, meskipun bertajuk kebudayaan atau apalah namanya,” ujar Pidi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.

Dia menambahkan saat ini merupakan saat yang tepat untuk memperbaiki diri dan membuat program-program pendidikan, tidak lagi bersifat normatif atau khusus untuk dunia kreativitas.

“Programnya bukan cuma menjejalkan banyak teori atau wawasan pengetahuan, tapi kita berharap bisa mengatur diri dan membangun kepribadian dengan mentalitas yang baik untuk menjadi diri yang kreatif,” kata dia.

Pidi Baiq merupakan seorang kartunis, yang kemudian menjadi komikus dan pelukis. Tidak berhenti sampai di situ, ia mulai menumpahkan ekspresinya lewat lagu. Alasannya sederhana, karena Pidi suka dengan lagu rakyat, selain sederhana, semua orang mudah menyanyikannya, namun punya pesan dan nilai dalam liriknya.

Pidi Baiq mulai menjadi musisi dengan grupnya, yaitu The Panasdalam. Belakangan dan selanjutnya turut merambah dunia perfilman. Selain sebagai penulis cerita juga turut menjadi sutradara film.

“Menulis, menggambar atau membuat komik, masing-masing itu kan “media ungkap” untuk mengekspresikan diri. Saya banyak berpikir tentang kreativitas saya dan bagaimana saya ingin melakukan lebih banyak proyek kreatif melalui media apapun. Semakin banyak hal yang saya lakukan, semakin saya menyadari bahwa ini bukan lagi persoalan bagus atau tidaknya karya saya, melainkan saya hanya ingin mengeluarkan pikiran dan emosi saya dengan cara dan melalui media yang berbeda,” terang dia.

Pidi memiliki cara pandang yang menarik dalam melihat sebuah karya dan kaitannya dengan kebudayaan. Menurut Pidi, tiap generasi memiliki kesempatan yang sama dalam mengekspresikan karyanya, termasuk budaya yang ada di mana kita berada.

“Kita adalah orang yang dilahirkan oleh kebudayaan, dan berharap melahirkan kebudayaan baru yang sesuai dengan situasi dan keadaannya sendiri. Kita tidak bisa memamahbiak ide-ide lama, murid harus berkembang biak untuk melahirkan ide-ide baru. Karya saya bukan hal terbaik, tapi saya mengerjakannya sungguh-sungguh. Buat saya berkarya itu totalitas, jika tidak lebih baik, lebih baik tidak,” ujarnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan