Pasokan dari Bulog Minim, Minyakita di Pasar Bandung Dijual Jauh di Atas HET

Pedagang menata kemasan minyak goreng subsidi Minyakita di pasar tradisional Kosambi di Bandung, Jawa Barat, J
Pedagang menata kemasan minyak goreng subsidi Minyakita di pasar tradisional Kosambi di Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/6/2026). Para pedagang di wilayah tersebut mengeluhkan minimnya suplai dan kelangkaan stok Minyakita dari pihak distributor selama beberapa pekan terakhir, di tengah rencana pemerintah yang akan menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kelangkaan pasokan Minyakita dari jalur distribusi resi Bulog masih menjadi keluhan pedagang di sejumlah pasar tradisional. Di Pasar Kosambi Kota Bandung, pedagang mengaku kesulitan mendapatkan stok minyak goreng bersubsidi tersebut sehingga harga jual di tingkat pasar melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Salah seorang pedagang, Ida, mengatakan persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan pada kemampuan membeli barang, melainkan terbatasnya pasokan yang masuk ke pasar. Akibatnya, pedagang terpaksa mencari stok dari pemasok lain dengan harga yang lebih mahal.

“Kalau modal untuk membeli sebenarnya ada. Misalnya barang datang, saya siap beli. Tapi sekarang barangnya memang susah dicari. Pasokan yang biasanya turun ke pasar juga tidak saya dapat,” kata Ida saat ditemui di Pasar Kosambi, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga:KURDA Nol Persen Sasar Semua Desa, Warga yang Ingin Jualan Cilok pun Bisa Dapat ModalOperasi Patuh Lodaya 2026 Segera Dimulai, Pelat Nomor 'Nyeleneh' Sasaran Utama Tilang Elektronik

Ia mengungkapkan, selama ini Minyakita yang dijual di kiosnya diperoleh dari sejumlah distributor di luar jalur pasokan resmi. Namun karena stok yang tersedia terbatas, harga beli yang diterima pedagang ikut mengalami kenaikan.

Menurut Ida, kondisi tersebut membuat harga Minyakita yang seharusnya dijual sesuai HET Rp15.700 per liter kini terpaksa dipasarkan hingga Rp21.000 per liter.

“Pembeli juga sering tanya kenapa mahal. Kami juga sebenarnya ingin jual sesuai aturan, tapi barang yang kami dapat memang sudah mahal. Kalau tidak begitu, kami tidak dapat untung bahkan bisa rugi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kelangkaan stok telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Ketika barang tersedia, jumlah yang diterima pedagang pun tidak sebanyak biasanya sehingga cepat habis diserbu pembeli.

“Kalau barang datang biasanya langsung habis. Banyak pelanggan yang sengaja mencari Minyakita karena harganya lebih terjangkau dibanding merek lain. Tapi sekarang justru barangnya yang susah dicari,” katanya.

Menurut Ida, pedagang berharap pemerintah tidak hanya mempertimbangkan kenaikan HET Minyakita, tetapi juga memperbaiki distribusi hingga ke pasar tradisional. Sebab, keberadaan minyak goreng subsidi sangat dibutuhkan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

“Yang penting barangnya ada dulu di pasar. Kalau stok lancar, harga juga biasanya lebih stabil. Sekarang yang susah itu dapat barangnya,” tuturnya.

0 Komentar