Video Bullying Siswa SMK Bina Warga 1 Bogor Viral, Sekolah Tinjau Penerapan Sanksi

Video Perundungan Siswa SMK Bina Warga 1 Bogor Viral, Sekolah Tinjau Penerapan Sanksi
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Bina Warga 1 Kota Bogor, Deni Mulyadi, saat memberikan keterangannya di Mapolresta Bogor Kota, Jumat (5/6/2026). Foto: Sekar Andini/Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – SMK Bina Warga 1 Kota Bogor akan mengkaji sanksi bagi para pelajar yang terlibat dalam video viral yang memperlihatkan aksi perundungan di Jalan Ciheuleut, Kecamatan Bogor Timur, Rabu (3/6/2026).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Bina Warga 1 Kota Bogor, Deni Mulyadi, mengatakan pihak sekolah masih melakukan pendalaman internal terhadap seluruh siswa yang terlibat sebelum menentukan bentuk sanksi yang akan diberikan.

Nantinya, pengenaan sanksi tidak akan disamaratakan karena masing-masing siswa memiliki riwayat dan catatan pelanggaran disiplin yang berbeda.

Baca Juga:Viral Video Bullying Pelajar SMK di Kota Bogor, Polisi: Korban dan Pelaku Tergabung dalam Satu Basis, Itu LagiViral Video Bullying Pelajar di Bogor, Polisi Identifikasi 7 Siswa dari Dua Sekolah

Diketahui, empat pelajar yang teridentifikasi sebagai pihak yang melakukan perundungan yakni MA (kelas 11 mesin), HH (kelas 11 mesin), RMZ (kelas 11 listrik), dan MFS (kelas 10 TSM) serta seorang pelajar berinisial R (kelas 11 TKR) yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

“Untuk sanksi dari pihak sekolah, nantinya akan kami tinjau kembali. Sebab, setiap anak memiliki riwayat dan catatan pelanggaran disiplin yang berbeda-beda, sehingga sanksi akan disesuaikan dengan kondisi yang ada, jadi tidak sama rata,” ujar Deni saat ditemui di Mapolresta Bogor Kota, Jumat (5/6/2026).

Deni mengaku prihatin atas kejadian yang sempat viral di media sosial tersebut. Menurutnya, peristiwa itu turut mencoreng nama baik sekolah, terlebih terjadi saat proses Penerimaan Murid Baru (PMB) tengah berlangsung.

Ia juga menyebut fakta bahwa korban dan sejumlah pelaku berasal dari sekolah yang sama menjadi pukulan tersendiri bagi pihak sekolah.

“Kejadian ini memang cukup memalukan bagi kami, karena pelaku dan korbannya ternyata berasal dari satu sekolah yang sama. Apalagi sekarang juga lagi proses penerimaan siswa baru,” katanya.

Selain mengkaji sanksi, Deni juga menyebut pihak sekolah masih mendalami latar belakang kelompok yang diikuti para pelajar tersebut. Berdasarkan informasi sementara, kelompok itu bukan merupakan geng tawuran, melainkan basis wilayah yang terbentuk berdasarkan rute perjalanan pulang para anggotanya.

“Ternyata kelompok ini bukan sebuah geng, melainkan lebih ke basis wilayah atau rute arah jalan pulang mereka. Harapan awal mereka sebenarnya ingin merasa aman di jalan, padahal keputusan itu justru menjadi blunder bagi diri mereka sendiri,” tuturnya.

0 Komentar