Jika diperoleh hasil yang baik sesuai target dari uji praklinik, maka dapat dilanjutkan ke uji klinik pada manusia.
Eijkman telah mengembangkan bibit Vaksin Merah Putih sekitar April 2020 dan telah menyerahkan bibit itu kepada PT Bio Farma sebagai mitra industri sekitar April 2021.
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan pihaknya telah menyelesaikan tahap penelitian dan pengembangan bibit vaksin di laboratorium. Selanjutnya, dilakukan proses peralihan dari tahap laboratorium untuk masuk ke industri.
Baca Juga:Bupati Cirebon Klaim 373 Desa Masuk Zona HijauPolres Garut Berikan Bantuan Sepeda Motor Modifikasi untuk Siswi Kembar Siam
Dalam proses transisi tersebut, banyak kegiatan yang dilakukan untuk memastikan bibit vaksin bisa dikembangkan di skala industri di antaranya optimasi, scalling up dan peningkatan yield atau produktivitas vaksin.
Peralihan dari laboratorium ke industri itu bukan hal yang mudah karena bibit vaksin yang dikembangkan di laboratorium masih dalam skala kecil, sementara perlu sejumlah penyesuaian untuk bisa mengembangkannya dalam skala besar di industri.
Pada skala lab, bibit vaksin dibiakkan dalam jumlah hitungan skala kecil, yakni misalnya 100 mililiter, sementara untuk skala industri, dibiakkan mulai dari puluhan liter hingga ratusan liter.
Efikasi
Proses penyesuaian untuk skala industri itu dilakukan untuk mencari kondisi terbaik agar vaksin tetap sesuai persyaratan yakni efektif dan aman serta perolehan produktivitasnya tinggi sehingga bisa diproduksi dengan ekonomis.
Indonesia tentunya tidak ingin selamanya bergantung pada suplai dari luar negeri yang tidak terjamin kapan tersedianya secara berkala dan cukup untuk kebutuhan seluruh penduduk di Tanah Air.
Oleh karenanya, keberhasilan pengembangan Vaksin Merah Putih akan menandakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia serta untuk kemandirian bangsa terhadap vaksin.
Sebagaimana diketahui, meski sudah divaksinasi saat ini, masih tetap dibutuhkan pemeliharaan kekebalan tubuh di periode mendatang karena kekebalan tubuh yang terbentuk sekarang ini tidak bertahan selamanya.
Baca Juga:Terapkan Ganjil Genap Volume Kendaraan di Jalur Puncak Turun 30%Komisi I DPRD Bogor Panggil Kadis Dukcapil usai Disidak Kemendagri
Hasil studi menunjukkan kekebalan seseorang yang berhasil sembuh dari COVID-19 rata-rata hanya bertahan delapan bulan.
Untuk itu, diperlukan revaksinasi atau penyuntikan booster kepada masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, maka vaksin Merah Putih sangat diharapkan bisa segera terwujud dengan memiliki efikasi, keamanan dan khasiat yang efektif membangun kekebalan tubuh, terbukti secara ilmiah dan sesuai standar regulasi dari otoritas.
