Tak Diangkut ke Sarimukti, Ini Alasan Ratusan Ton Sampah di Jembatan Ciganitri Ditimbun Tanah

Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy saat ditemui, Jumat
Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy saat ditemui, Jumat (17/7/2026). Foto Agni Ilman Darmawan
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tumpukan sampah liar di akses Jembatan Tol Terusan Logam-Ciganitri, Desa Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, yang diperkirakan mencapai sekitar 300 ton tidak seluruhnya akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Sarimukti.

Sebagai gantinya, sebagian besar sampah akan dirapikan dan ditimbun menggunakan tanah.

Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy, mengatakan keputusan tersebut diambil karena keterbatasan kuota pembuangan sampah ke TPAS Sarimukti serta kondisi lokasi yang tidak memungkinkan dilakukan pengangkutan secara menyeluruh.

Baca Juga:Dipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah SekolahPemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga Pendanaan

Ia menjelaskan, hingga saat ini kuota pembuangan sampah Kabupaten Bandung ke TPAS Sarimukti masih tetap 280 ton per hari, sesuai ketentuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat selaku pengelola.

“Kuota angkut ke TPAS Sarimukti sampai hari ini masih tetap 280 ton per hari. Ketika ada TPS liar seperti ini, menjadi dilema bagi kami karena kuota yang seharusnya digunakan untuk pelayanan warga juga harus dipakai mengangkut sampah dari TPS liar,” ujar Wahid, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, volume sampah di Jembatan Ciganitri diperkirakan mencapai lebih dari 15 tronton atau sekitar 300 ton, sehingga mustahil seluruhnya diangkut tanpa mengganggu pelayanan pengangkutan sampah rutin kepada masyarakat.

“Kalau dihitung, di lokasi ini lebih dari 15 tronton. Satu tronton kapasitasnya sekitar 20 ton, jadi hampir 300 ton. Dengan kondisi kuota seperti sekarang, tentu tidak mungkin semuanya diangkut,” katanya.

Selain keterbatasan kuota, kondisi medan yang curam juga menjadi pertimbangan utama. DLH mengaku telah dua kali melakukan survei untuk mengerahkan alat berat, namun opsi tersebut dinilai berisiko.

“Sebetulnya sudah dua kali kami survei untuk pengambilan menggunakan alat berat. Tetapi melihat kecuraman seperti ini, cukup berisiko bagi alat berat kami jika dipaksakan melakukan pengangkutan,” jelasnya.

Wahid mengatakan, rencana penimbunan sampah masih akan dikoordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Jasa Marga sebagai pemilik lahan.

Baca Juga:KNPI Kabupaten Tasikmalaya Tancap Gas, Digitalisasi UMKM dan Penciptaan Wirausaha Muda Jadi PrioritasBawa Nama Polda Jabar, Anggota Satlantas Polres Tasikmalaya Briptu Dhiva Persembahkan Emas Kapolri Cup 2026

“Kalau memungkinkan sebagian akan kami angkut. Tetapi sebagian lagi kelihatannya tidak bisa dinolkan dengan kondisi seperti ini. Terlalu berat, apalagi tingkat kemiringannya cukup tinggi,” ungkapnya.

0 Komentar