Nike juga aktif mengikuti berbagai lomba dan kompetisi. Di antaranya, Runner Up Cosmogirl! of The Year 2012, Cita Cinta Change-lebration 2013, featured on Girlfriend! Magazine for SelfRespect Campaign, Cewequat of The Month 2014, Pemenang Utama Blogger Competition Women In You by The Flavor Bliss.
Kemudian, Finalis Campaign Kuatnya Kelembutan Sunsilk Unilever 2014, dan Finalis International Competition Global Dialogues 2015 yang diadakan di Kenya dan Guatemala.
Namun dibalik keberhasilannya berbagai lomba, dia memiliki sisi lemah sebagai perempuan. Untuk pekerjaannya saat ini, dia sering menjadi tempat curahan hati kisah pilu para korban kekerasan.
Baca Juga:Tips Olahan Daging Kambing Kurban Biar LezatePaper Koran Jabar Ekspres Edisi Selasa, 13 Juli 2021
”Paling menyentuh perasaan sih pastinya ketika aku jadi petugas di Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan, ya. Soalnya kami ujung tombak dari pengaduan penyintas kekerasan berbasis gender. Artinya kami adalah orang pertama yang terpapar dengan cerita-cerita kekerasan,’’ kata perempuan yang ingin meneruskan studi S2 di bidang kajian gender di Universitas Indonesia ini.
Nike mengaku, terharu tapi tidak sampai menangis. Namun, dia lebih sedih lagi terhadap teman-teman yang menjadi korban, tapi memilih bangkit dan berhenti diam.
’’Karena itu benar-benar butuh keberanian dan kekuatan yang besar,” ujar gadis pecinta dimsum ini.
Pandangannya terhadap relawan pun mengalami perubahan. Sebelum mengenal kegiatan tersebut, dia menangkap arti relawan adalah orang yang terlibat dan membantu orang lain yang membutuhkan.
Namun, saat relawan sudah menjadi bagian dari dirinya, relawan berarti orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk hal-hal simpel. Tapi, relawan juga melakukannya untuk kebutuhan jiwanya sendiri.
Nike setuju pada ungkapan ‘kerja kemanusiaan adalah kerja untuk jiwa’. Dia percaya semua manusia pada dasarnya ada urgensi untuk melakukan sesuatu untuk sesamanya. Dorongan tersebut bisa terwujud dengan jadi relawan. Sebab, Nike menilai, menjadi relawan merupakan salah satu bentuk rasa syukur. Tapi, Nike mengaku, tidak menempatkan diri sebagai ‘penyelamat’ atau orang yang menopang dan menolong orang lain dengan pekerjaan. Justru dia menjadi relawan karena butuh.
’’Untuk aku merasa semangat, aku butuh untuk melakukan sesuatu yang ada gunanya buat yang lain. Aku pribadi percaya setiap manusia unik dan punya subjektivitasnya pribadi. Ada yang merasa semangat dan bahagia kalau bisa travelling, bisa nulis satu novel, atau kalau bisa nongkrong seharian sama teman-teman,’’ katanya. (tam)
