Pemkot Cimahi Bidik Lahan Pemakaman Khusus COVID-19

komorbid dokter covid-19 vaksinasi
ILUSTRASI. IDI mengumumkan sebanyak 14 dari 61 dokter yang sudah divaksinasi meninggal setelah terpapar Covid-19 sepanjang Februari-Mei 2021. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
0 Komentar

CIMAHI – Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Cimahi mulai membidik sejumlah lahan untuk dijadikan tempat pemakaman khusus COVID-19. Pasalnya, lahan yang tersedia saat ini nyaris penuh.

Berdasarkan data DPKP Kota Cimahi, total sudah ada 319 jenazah yang sudah dikebumikan di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Seperti di TPU Muslim Cipageran, TPU Leuwigajah dan TPU Lebaksaat. Lahan pemakaman tersisa berada di TPU Lebaksaat Blok C Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, hanya tersisa untuk 89 jenazah.

Baca Juga:Warga Melong Masih “Dikepung” BanjirBupati Bandung Akan Renovasi Tempat Pengolahan Air Limbah MCAB

“Sisa makamnya tinggal 89 lagi. Kalau sehari ada 5, mungkin 10-14 hari sudah habis. Memang mulai krisis lahan pemakaman,” ungkap Nur saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jumat (2/7).

Dikatakannya, ada sejumlah lahan yang akan dijajaki untuk dijadikan pemakaman khusus COVID-19. Di antaranya lahan di daerah Kelurahan Cibeber dan Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan.

Diakuinya, aktivitas pemulasaraan jenazah warga yang terkena virus korona meningkat seiring melonjaknya kasus COVID-19 di Kota Cimahi. Bahkan beberapa hari lalu, terang Nur, ada 14 jenazah yang dimakamkan dalam sehari.

Akibat lahan pemakaman yang semakin kritis, pihaknya pun kini hanya menerima jenazah yang memiliki KTP Kota Cimahi. Sementara warga luar, meskipun tinggal di Cimahi, terpaksa akan ditolak.

“Kami banyak yang minta untuk dimakamkan di Cimahi, tapi enggak KTP Cimahi, kami tolak. Pemakaman sudah sangat terbatas,” tegas Nur.

Selain krisis lahan pemakaman, beber Nur, lahan makam di TPU Lebaksaat Blok C juga terancam longsor. Sebab, belum dibuatkan Tembok Penahan Tanah (TPT). Pihaknya mengusulkan agar segera mungkin dibangun penahan.

“Tingginya 6-8 meter tinggi dan butuh tembok penahan tanah. Butuh Rp 600-700 juta untuk menjaga supaya tidak terjadi longsor,” pungkasnya.

0 Komentar