Meski Belum Lewat Uji Klinis, Waket DPR Tetap Yakin Vaksin Nusantara Aman

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi IX DPR Melki Laka Lena menjelaskan, walaupun anggota dewan pernah disuntik vaksin Sinovac beberapa waktu lalu. Namun akan kembali disuntik dengan menggunakan vaksin Nusantara.

Menurut Melki, dirinya mengibaratkan orang berobat saja. Pada saat orang tidak cocok dengan obat dengan merek A, maka pasti akan beralih ke obat merek lainnya.

“Ya sama kita berobat saja, misalnya obat ini rasanya kurang cocok kita berobat lagi. Jadi biasa saja enggak usah dibikin rumit. Ini kan sama macam orang diobati memakai obat A, tapi enggak cocok dan mengganti obat B. Jadi enggak usah dibikin rumit,” ujar Melki kepada JawaPos.com, Kamis (15/4).

Melki mengatakan, walaupun vaksin Nusantara ini belum melewati uji klinis tahap II dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun DPR tetap berkeyakinan vaksin Nusantara aman.

“Sekarang saya tanya uji klinis tahap III Sinovac udah keluar belum?. Kita sudah pakai satu republik. Uji klinis Sinovac tahap III belum keluar tapi kita sudah pakai lho berjuta-juta,” katanya.

“Jadi enggak usah terjebak di hal-hal uji klinis, simple aja. Setiap orang punya keyakinan sendiri dengan obat yang diyakini benar,” tambahnya.

Sementara terpisah, Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan, dirinya ingin kembali disuntik vaksin lantaran telah ke salah satu laboratorium tingkat imunitas vaksin Sinovac sangat rendah.

“Nah saya kira tidak maksimal, dan saya coba vaksin Nusantara ini, karena orang yang sudah cerita ke saya imunitasnya jauh banget. Jadi ya coba saja, kenapa misalnya kita ingin mencari imunitas yang lebih baik,” katanya.

Sementara mengenai BPOM menyebut peneliti vaksin Nusantara adalah dari perusahaan asal Amerika Serikat (AS) AVIATA. Kemudian vaksin Nusantara merupakan vaksin yang menggunakan campuran sel dendritik yang diperoleh dari darah masing-masing orang. Antigen SARS COV-2 Spike Protein produksi Lake Pharma, CA, USA.

GMCSF (Sarmogastrim) adalah suatu growth factor yang diproduksi oleh Sanofi-USA. Di mana Proses pengolahan sel dendritik dikembangkan oleh AIVITA Biomedical Inc.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan