Mengenal Komunitas Bambu dan Sosok JJ Rizal

Mengenal Komunitas Bambu dan Sosok JJ Rizal
Pendiri dan Direktur Penerbit Komunitas Bambu, JJ Rizal saat ditemui di kediamannya di Jl. Taufiqurrahman, No 3, Beji Tim., Beji, Kota Depok, Selasa (13/4) (Haris Samsuddin / Jabar Ekspres)
0 Komentar

“Misalnya, kita tahu nilai yang paling fundamental dari krisis yang dialami Indonesia itu apa. Kalau kita tidak tahu apa itu Indonesia, maka otomatis kita akan tiba pada situasi yang sangat berbahaya. Kalau kita enggak tahu apa itu Indonesia, maka kita tidak tahu alasan Indonesia itu ada. Atau Indonesia di-create (dilahirkan) oleh siapa. Singkatnya, siapa yang melahirkan Indonesia? Karena kita tidak tahu siapa yang melahirkan Indonesia maka perilaku kita semua menyimpang dari teladan para pendiri republik,” terang Rizal.

Rizal pun mengatakan, aneka penyimpangan perilaku utamanya yang dilakukan oleh segelintir elit kekuasaan itu jangan-jangan dalam batin dan pikiran mereka sama sekali tidak mengerti duduk persoalan itu.

“Mungkin kita juga tidak mengerti apa itu republik, karena itu kita kemudian menimbulkan sebuah sistem kekuasaan yang sifatnya patrimonial atau rejim otoritarian. Karena kita enggak tahu apa itu Indonesia juga, kita jangan-jangan tidak tahu Indonesia nama lainnya Tanah Air. Tapi juga yang diingat hanya tanahnya doang, airnya enggak. Sehingga ada satu aspek dari kehidupan kita yang diabaikan,” tukasnya.

Baca Juga:Menkes Tuturkan Perjalanan Indonesia Selama Hadapi Covid-19Simak Jadwal Pendaftaran dan Rincian Materi Tes CPNS dan PPPK 2021

Dari sederet permasalahan itu lah, kata Rizal, menjadi cikal-bakal dibentuknya Kobam. Lahirnya Kobam adalah bagian tak terpisahkan dari penemuan atas pangkal masalah yang menjadi penyebab krisis nilai di Indonesia. Dengan begitu, menurut Rizal, mengenali sejarah menjadi satu-satunya cara untuk memahami bagaimana nilai itu ditransformasi atau bahkan didistorsi sedemikian rupa yang pada akhirnya memicu terjadinya krisis.

“Jadi kita tiba pada kesimpulan krisis nilai dan otomatis untuk mengetahui nilai itu satu-satunya jalan pulang ya kembali ke rumah sejarah. Karena sejarah kan merekam proses pembentukan nilai, jadi di situlah pilihannya kita mendirikan komunitas bambu,” jelas Rizal.

Sementara, Kobam sendiri diadopsi dari konsep anthurium bambu yang dulunya diasosiasikan dengan Kota Depok. “Namanya pun komunitas bambu karena kita di Depok dan Depok dulu konsepnya anthurium bambu, berbagai macam jenis bambu ada di sana. Tapi, kita enggak tahu lagi sekarang itu bahwa Depok itu dulu pernah jadi anthurium bambu,” tutur Rizal.

0 Komentar