oleh

Cabai Hajjar

Di Brasil pun beredar dua keterangan mengenai afikasi Sinovac. Bolsonaro terus menyuarakan bahwa afikasi Sinovac hanya 50,4 persen. Peneliti di sana mengumumkan afikasinya 78 persen.

Bolsonaro, seperti Trump, juga anti Tiongkok.

Maka vaksinasi di Brasil terkenal tidak terorganisasikan dengan baik. Menkes yang jenderal segera memesan vaksin AstraZeneca 100 juta. Tapi terjadi kesalahpahaman. Pesan lagi vaksin Pfizer dan Sputnic-V dari Rusia.

Sampai kemarin baru 5 persen penduduk Brasil yang divaksinasi.

Baca Juga:  Kejar Target Herd Immunity, Pemda KBB Genjot Vaksinasi Covid-19

Kehebohan terbesar ketika kementerian salah kirim vaksin: mestinya ke negara bagian Amazon dikirim ke Amapa –tetangganya. Itu akibat kode kirim yang mirip –tiga huruf depan dua negara bagian itu sama-sama ”Ama..”.

Banyak lagi kekacauan lainnya. Termasuk terjadinya kelangkaan oksigen. Dan juga terjadi penyelewengan. Yang melibatkan sang menkes. Maka menkes tidak bisa lagi cuci tangan. Ia harus menghadapi pengadilan dalam waktu dekat.

Bolsonaro pun harus mengganti menkes-nya lagi. Tapi diganti siapa? Siapa yang mau?

Baca Juga:  Baru Tiba di Jepang, Atlet Tim Olimpiade Serbia Terkonfirmasi Positif Covid-19

Presiden kembali melirik ke dokter wanita ahli jantung itu. Yang dulu menolak jadi menkes itu. Sabtu lalu Prof Hajjar dipanggil ke istana. Untuk mendiskusikan soal jabatan menkes itu. Tidak mudah bagi Presiden Bolsonaro membujuk Prof Hajjar. Hari Minggu besoknya Prof Hajjar diminta ke istana lagi. Bicara panjang lagi. Prof Hajjar tetap menolak jabatan itu.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga