NGAMPRAH – Coretan tak bermakna dan kerusakan mewarna sejumlah tapal batas desa yang berdiri di perbatasan antar desa di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Misalnya tapal batas antara Desa Cilame dengan Desa Pakuhaji, di Kecamatan Ngamprah, KBB. Tapal batas dari batu alam dengan lambang Observatorium Bosscha di bagian puncaknya rusak dan banyak terdapat coretan cat warna.
Aksi vandalisme itu jelas merupakan bentuk perusakan terhadap aset daerah dan simbol pemerintah daerah, mengingat tugu atau tapal batas desa tersebut dibuat sesuai dengan lambang Pemda KBB.
Baca Juga:Wali Kota Banjar: E-Filing Mudahkan Masyarakat Lapor SPT TahunanLibur Panjang, Kunjungan Wisatawan ke Lembang Meningkat 30 Persen
“Kami sangat menyayangkan adanya aksi vandalisme itu, apalagi dilakukan di aset daerah yakni tapal batas antar wilayah,” kata Kepala Desa Cilame, Aas Mochamad Asor, Minggu (14/3).
Menurutnya aksi vandalisme itu kebanyakan dilakukan di tapal batas yang jauh dari permukiman dan keramaian. Terlebih tidak ada pengawasan khusus dari aparat desa, sehingga perbuatan iseng dari orang-orang tidak bertanggungjawab tersebut tidak terpantau.
“Kita punya daerah agak luas, sekitar 480 hektare dengan total 7 titik tapal batas dengan desa tetangga. Menang sulit kalau harus terus dipantau,” terangnya.
Rata-rata pembuatan satu tapal batas menghabiskan anggaran antara Rp5-10 juta. Sehingga dengan adanya aksi vandalisme ini telah membuat pihaknya dirugikan karena harus kembali merapikan tapal batas yang dirusak.
“Pelakunya bisa saja bukan warga Cilame dan bukan karena benci, tapi lebih kepada perilaku kenakalan. Kalau ketahuan pasti ditegur, tapi jika mereka tidak jera kita bisa laporkan ke polisi,” tegasnya. (mg6)
