BANDUNG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut perubahan iklim secara global telah mengakibatkan cuaca ekstrem di Indonesia. Seperti munculnya El Nino dan La Nina.
“Saat ini semakin sering terjadi fenomena ekstrem, seperti kekeringan panjang akibat dampak El Nino dan musim hujan basah yang panjang dampak La Nina. Ini menunjukkan bahwa perubahan iklim global itu nyata,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual, Senin (1/2)
Dwikorita Karnawati menyebut Indonesia telah mengalami fenomena El Nino dan La Nina yang terjadi berulang sejak 1950 hingga 1980. Namun, saat itu terpantau pengulangan terjadi dalam kurun waktu 5 – 7 tahun.
Baca Juga:Wakaf ProduktifePaper Jabar Ekspres Edisi Selasa, 2 Februari 2021
Namun, kata dia, setelah tahun 1981 hingga 2019 pengulangan cuaca ekstrem mengalami percepatan. Fenomena tersebut semakin pendek menjadi 2-3 tahun.
“Setiap dua sampai tiga tahun terjadi fenomena ekstrem El Nino kekeringan yang panjang dan La Nina yaitu musim hujan basah yang panjang. Ini adalah fakta dan data,” ujar Dwikorita
Ia menjelaskan terdapat berbagai hal yang menyebabkan percepatan perubahan iklim secara ekstrem. Salah satunya meningkatnya gas rumah kaca seperti CO2 atau karbon monoksida. Senyawa kimia itu berasal dari kegiatan industri, pengundulan, kendaraan bermotor, dan lainnya. “Juga karena aktivitas kita semua dalam memanfaatkan bahan bakar fosil tadi antara lain bukan satu-satunya,” jelasnya.
Dwikorita memberi peringatan, cuaca ekstrem saat ini masih akan terlangsung beberapa bulan ke depan. Bahkan, bisa sampai Maret hingga April.
“Dalam prediksi kami masih akan berlangsung hingga bulan Maret paling tidak. Bahkan mungkin di beberapa wilayah mundur dapat terjadi pula di bulan April,” imbaunya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah menyusun kajian risiko bencana dan peta rawan bencana sampai tingkat desa guna memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan kondisi kebencanaan.
“Hal itu dilakukan agar masyarakat memahami kondisi kebencanaan di lingkungannya. Pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk tetap waspada amat krusial,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat Dani Ramdan belum lama ini.
Baca Juga:Gubernur Jabar Resmikan Program Puskesmas Terpadu dan Juarabank bjb Rangkul Pelaku UMKM Lebak Gunakan QRIS
Peta rawan bencana di Jabar itu meliputi semua jenis potensi kebencanaan, seperti banjir, longsor, gempa bumi, dan tsunami. Dari 27 kabupaten/kota, 14 daerah masuk kategori risiko bencana tinggi dan 13 daerah berisiko bencana sedang. Tidak ada daerah di Jabar yang masuk kategori risiko bencana rendah.
