oleh

Makamkan Jenazah Korban Covid-19 di Cikadut, Keluarga Terjun Langsung

Menurutnya, rumah sakit tempat ayahnya dirawat juga sempat menginformasikan terkait pengangkutan jenazah kepada Cepi. “Itu dikasih tau kalau disini enggak ada pengangkut jenazah untuk siang hari,” katanya.

Terpisah, salah satu pemikul peti jenazah Covid-19 yang melakukan mogok kerja, Farhan menceritakan, awalnya terdapat penolakan dari warga untuk menjadikan TPU Cikadut menjadi tempat pemakaman pasien Covid-19.

“Pertama ada enam peti mayat Covid-19 itu enggak ada yang mikul, waktu sebelum dipisah jadi lahan khusus. Cuman saya juga manusia, kasian, saya sama temen gimana kalau kita angkat. Ada sebagian orang juga bilang awas tular itu kan balik lagi ke kepercayaan kita juga. Ah lahaula aja kita angkat. Nah disitu kita enggak narif, waktu awalnya aja kita enggak narif harus bayar sekian, enggak,” ungkapnya.

Dia menegaskan, selama ini tidak menarif harga soal pembayaran jasa pikul itu. Berapa pun kemampuan ahli waris diterima, meskipun tak sedikit yang dibantu secara cuma-cuma. Belum lagi kebutuhan APD tidak masing-masing orang memiliki satu APD.

“Uang dari ahli waris kita sisihkan jadi kalau di ahli waris ada yang ngasih 1 juta, dibagi bagi untuk yang kerja 12 orang. Kita kasih Rp 30 ribu sama rata, sisanya kita simpan buat keperluan bersama seperti sepatu, APD, dan masker,” ujarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga