Pertemuan Tatap Muka atau Pembelajaran Jarak Jauh

Jika merujuk pada sistem pembelajaran di luar negeri selama Pandemi Covid-19, negara Tiongkok menerapkan prosedur yang sangat ketat. Dimana sebelum masuk, kelas-kelas disemprot desinfektan.

Selain itu, ada petugas di depan gerbang yang mengecek suhu tubuh para siswa. Dan tentunya siswa dan para guru wajib pakai masker.

jumlah orang per kelas dikurangi, jarak antarmeja dibuat renggang. Koridor dan jalur-jalur dibuat satu arah. Beberapa sekolah membuat sekat antarmeja seperti di warnet.

Di Perancis penerapa PTM lebih kepada melihat zona/daerah yang aman dari Covid-19.Namun, tentunya protokol kesehatan diterapkan dengan sangat ketat.

Sekolah di La Grand-Croix dan Val-de-Reull, misalnya, murid-murid harus mengenakan masker dan face shield selama kegiatan belajar.

Lain halnya d Denmark, beberapa sekolah membuka kelas di ruang terbuka. Alasannya agar sirkulasi udara dapat bebas keluar. Bahkan, para siswa disana ada yang belajar di parkiran.

Sedangkan di Neustrelitz salah satu sekolah di Jerman Utara menerapkan Rapid tes setiap dua minggu sekali. Sehingga, jika ada murid yang kedapatan positif, mereka harus di rujuk ke rumah sakit. Sedangkan bagi yang negative akan diberikan tanda mendapatkan stiker hijau.

Sementara di negara USA, PTM belum dilaksanakan. Mereka lebih memilih pembelajaran secara online learning. 28 negara bagian sekitar 48 persen murid K-12  enggak dikasih instruksi buat pembelajaran jarak jauh. Hasilnya? Ya mereka pasrah saja.

Kendati begitu, penerapan pembelajaran Jarak Jauh di Amerika sudah dilakukan analisa yang komperhensif. McKinsey & Company membaginya menjadi 3 kategori.

Pertama, murid yang disebut quality remote learning. Tipikal murid yang bisa beradaptasi, biasanya mereka enjoy, punya akses, dan bisa nangkep materi pembelajaran online dengan baik.

Kedua, murid yang semakin lama ngejalanin pembelajaran online, biasanya semakin capek dan susah nangkep materi (low quality).

Ketiga, murid yang tidak dapat instruksi sama sekali dari lembaga pendidikan. Murid-murid seperti ini rentan sekali drop out.

Ketiga kondisi murid seperti itu sebetulnya sama persis dengan keadaan para siswa di Indonesia. Sehingga, yang patut dikhawatirkan adalah terjadi kesenjangan  kesenjangan pendidikan dari generasi yang sama.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan