Ujian Konghucu

Ujian Konghucu
0 Komentar

Andrei akan mampu menjadi dirijen yang baik. Apalagi ia pernah dua tahun menjadi konsultan yang bekerja di Arthur Andersen Jakarta –satu dari empat konsultan terbesar di dunia.

Ia tahu zaman kopra –yang membuat Manado jaya– sudah lama berlalu. Mungkin ia masih sempat melihat kejayaan Manado itu di masa kecilnya. Tapi zaman berubah cepat.

Cengkeh –andalan kedua kejayaan Manado– juga sudah lama berlalu. Andrei tahu sendiri itu. Ia bisa sekolah ke Amerika antara lain karena cengkeh.

Baca Juga:ePaper Jabar Ekspres Edisi Sabtu, 12 Desember 2020Dukung UMKM Lokal, GrabExpress Hadirkan #ExpressBisa Permudah Pengiriman Barang

Ayah Andre adalah orang yang menjadi kaya karena cengkeh. Ketika zaman cengkeh berlalu sang ayah tetap cinta Manado. Ia investasi di hotel besar di Manado: Grand Puri. Dari sini bisa memandang Manado Water Front City. Bisa pula memandang pulau Bunaken yang terkenal itu. Pun bisa menatap Gunung Manado Tua yang seperti tumbuh dari dalam laut. Dan tentu juga bisa melihat Gunung Lokon yang sering batuk-batuk ringan itu. Saya beberapa kali menginap di situ.

Hotel inilah yang membuat Andrei pulang ke Manado. Sang ayah yang memanggilnya pulang. Krisis moneter 1998 terlalu parah. Proyek hotelnya itu terancam tidak bisa selesai. Ia harus membantu ayahnya.

Maka ia tinggalkan Arthur Andersen. Ia pulang. Ia berhasil menyelesaikan hotel itu –lewat berbagai restrukturisasi.

Andrei akan menjadi contoh yang lain lagi. Apakah pengusaha seperti Andrei bisa ikut mengatur negara. Tentu, mestinya, Andrei tidak perlu lagi mencari apa-apa. Hartanya sendiri sudah lebih dari Rp 300 miliar. Betapa pula kalau disatukan dengan harta orang tuanya.

Andrei tidak tahu generasi keberapa yang lahir di Manado. Bahkan istrinya sudah lebih mempribumi lagi.

Mereka inilah yang menurut Weliam H Boseke sebagai keturunan dinasti Han di Tiongkok. Yang sudah menjadi ”suku Manado” atau suku ”Minahasa”.

Bulan lalu Boseke diundang ke Surabaya. Untuk membedah bukunya berjudul ”Leluhur Minahasa” (Disway 29 Oktober/Boseke Minahaizi). Saya ikut diminta membahasnya. Bersama Prof Dr Perry Rumengan, ahli etnomusikologi dari Universitas Negeri Manado. Juga Soetijadi Judo, pengusaha besar Tionghoa Surabaya yang hari itu mendapat marga Manado, Ratulangi.

0 Komentar