Salah Sendiri

Alibaba, misalnya, memilih untuk taat aturan akuntansi di sana. Pun selama ini Alibaba merasa sudah menuruti sistem itu. Perusahaan akuntan yang dipakai Alibaba adalah perusahaan akuntan Amerika: PricewaterhouseCoopers (PwC). Lewat cabangnya yang di Hong Kong.

Pun perusahaan Tiongkok yang IPO di New York lainnya. Umumnya sudah memakai perusahaan akuntan dari Amerika atau Eropa. Mereka sendiri tidak berani tidak pakai mereka. Takut sahamnya tidak dipercaya. Tidak laku.

Maka banyak perusahaan akuntan Amerika yang akan dirugikan kalau mereka tidak bisa lagi masuk pasar modal New York.

Empat besar perusahaan akuntan Barat kini terus melakukan loby dua arah: ke Amerika sendiri dan ke Tiongkok. Mereka harus mengamankan pasar mereka yang sangat besar dari Tiongkok itu.

Salah satu materi lobi itu adalah ketentuan baru ini: perusahaan yang IPO di Amerika harus mau diperiksa kembali pembukuan mereka. Selama tiga tahun ke belakang.

Kalau ketentuan itu diberlakukan jangan-jangan banyak perusahaan yang harus hengkang dari pasar modal Amerika.

Audit tiga tahun ke belakang itu sendiri akan menjadi kesibukan yang luar biasa. Kalau saja kemudian ditemukan ketidakberesan, bagaimana? Itu tidak hanya mencoreng perusahaan Tiongkok tapi juga siapa yang selama ini mengaudit mereka: perusahaan-perusahaan akuntan Amerika itu sendiri.

Saya sendiri melihat UU baru ini ternyata tidak sekeras yang saya bayangkan. Semula, saya pikir, alasan yang dipakai adalah keamanan nasional. Nyatanya soal akuntansi. Soal yang sangat profesional.

Padahal banyak perusahaan Tiongkok yang juga telanjur mengira sangat keras. Mereka sudah ancang-ancang melakukan dual-listing. Di samping sudah di New York masih mencatatkan nama di bursa Hongkong.

Sebenarnya sudah lama perusahaan Tiongkok masuk pasar modal Amerika. Sudah sejak 1993. Tapi kian hari memang kian banyak saja.

Sampai hari ini sudah ada 354 perusahaan Tiongkok yang IPO di New York. Mereka berhasil mengeruk dana murah sebesar 88,5 miliar dolar. Lebih dari Rp 1.000 triliun.

Selama delapan bulan terakhir saja, pun di masa Covid-19 ini, mereka bisa meraik dana 5,25 miliar dolar.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan