BANDUNG – Dalam beberapa pekan ini, harga daging ayam di pasaran kembali melonjak, saat ini daging ayam dibandrol dengan harga Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram. Dinas Perdagangan dan Perindustrian mengungkapkan alasan terjadinya kenaikan daging ayam dari Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 35 ribu
Menurut Kepala Dinas Perdagangan Dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung, Elly Wasliah, kenaikan harga daging ayam dikarenakan terjadinya kelangkaan di tingkat peternak.
”Sudah suatu momen setelah lebaran itu biasa stok habis, ini para peternaknya baru mulai lagi berternak dan belum pada saatnya panen,” kata Elly di Balai Kota Bandung, Kamis (18/6).
Baca Juga:Sebaran Kasus Virus Covid-19 Tidak Merata, Sembuh 16.789 PasienButuh Kenaikan Anggaran Untuk Modernisasi Alutsista TNI
Berdasarkan penuturan Elly, dengan habisnya stok daging ayam di peternak setelah lebaran menyebabkan kenaikan harga di pasaran.
”Jelas akan memicu kenaikan karna stok ayam dipake pada saat lebaran, dan sekarang belum siap,” jelasnya.
Kendati demikian, Disdagin memperkirakan minggu depan harga daging ayam potong di pasaran akan kembali stabil. Sementara itu, Elly juga mengungkapkan harga telor ayam masih stabil berada di harga normal yaitu Rp 20.000 per Kg.
”Telur itu per-Kg Rp 22 sampai 23 ribu per kilonya, kalau HET nya Rp. 24.000,” tandasnya.
Terpisah, Aziz, 42, salah seorang pedagang ayam di Pasar Taman Senang Jalan Pagarsih mengaku kenaikan harga ayam sangat berpengaruh pada pendapatan. Sebab, selain memerlukan modal yang lebih besar untuk berbelanja, laba yang didapatkan pun mengalami penurunan.
”Biasanya bisa memperoleh keuntungan Rp 4 ribu per kilo. Tapi kalau harga mahal paling bisa ngambil untung sekitar Rp 2 ribu saja. Apalagi modalnya kan lebih besar,” ungkapnya, saat ditemui di kiosnya, Kamis (18/6).
Untuk itu dia berharap pemerintah, khususnya dinas terkait ikut melakukan pengawasan, sebab, dia khawatir ada orang-orang yang sengaja memainkan harga.
Baca Juga:Robert Rene : Kelanjutan Liga 1 Demi Tim Nasional U-20ePaper Jabar Ekspres Edisi 19 Juni 2020
”Biasanya setelah lebaran harga langsung turun. Tapi sekarang malah naik. Padahal waktu akan lebaran jualan juga tidak seramai jelang lebaran taun-taun lalu,” terangnya.
Dia mengungkapkan, sebelum harga naik, dirinya bisa menjual satu hingga satu setengah kuintal per hari. Namun setelah naik dirinya hanya bisa menjual 70 hinga 80 kg saja per hari.
