Tak hanya pelaksanaan kirab di Bandung, Formasi Jabar juga menolak acara kirab di Cirebon yang akan dilaksanakan 1 September 2020. Penolakan mereka dilakukan dengan melakukan audiensi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) yang diterima Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum.
Dalam audensinya, Formasi Jabar meminta Wakil Gubernur untuk membatalkan Kirab Budaya tersebut. Iwan menjelaskan, umat Islam tidak anti budaya, hanya saja dalam kegiatan itu ada parade agama yang ditakutkan dapat merusak aqidah umat Islam.
”Kami tidak anti budaya, kami ini orangnya berbudaya. Tapi kami ingin berusaha menjadi orang yang bersih aqidah,” jelasnya.
Baca Juga:KKP Kelas II Bandung Sediakan Brankar KhususKeluarga Berharap Polisi Segera Menangkap Penganiaya ZNS
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispudpar) Jawa Barat, Dedi Taufik menyampaikan bahwa dalam hal ini (Kirab Budaya di Cirebon), pihaknya hanya memfasilitasi rangkaian ulang tahun Cirebon yang jatuh pada 1 Muharam yang bertepatan pada 1 September 2020.
Selain itu, Dedi menyebut, pihaknya belum mengetahui secara rinci kegiatan tersebut. Oleh karena itu, Dedi mengaku, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
”Infomasi yang tadi apakah isinya tentang apa? Setahu saya di Cirebon isinya biasa saja, festival budaya dari masing-masing kecamatan tidak kepada pendekatan keagamaan, lebih mengakat budaya lokal,” terang Dedi.
Menanggapi tuntutan audiensi Formasi tersebut, Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menyatakan, jika pihaknya akan mengkaji lebih dalam terkait kegiatan Kirab Budaya di Cirebon.
”Nanti kita akan rapatkan lagi, InsyaAllah secepatnya hasilnya akan kami beritahu,” tandasnya.
Sementara itu Kabag Kesra Kota Bandung Bambang Sukardi menegaskan, kendati mendapat penolakan, pemerintah tetap berpegang pada kegiatan yang sudah dijadwalkan.
”Kegiatan itu tidak bisa diundur. Apalagi diberhentikan. Pemerintah akan tetap fokus sesuai jadwal, kegiatan baik adanya karena dalam rangka mendukung Bandung rumah bersama,” tegasnya.
Baca Juga:23 Pekerja Asal China di Bandung Bebas Virus CoronaPenyaluran CSR Harus Tepat Sasaran
”Kegiatan ini tidak ada kaitan dengan agama manapun. Justru ada potensi keterlibatan seluruh masyarakat dari seluruh komponen agama, baik Islam, Katolik, Budha, Hindu, Kristen dan Konghucu, termasuk kampung toleransi didalamnya melibatkan diri,” terangnya.
Untuk itu, Bambang mengaku, pihaknya akan berusaha memberikan pemahaman persuasif kepada kelompok-kelompok yang merasa keberatan. Sebab, kegiatan itu betul-betul untuk mendukung dan mengangkat budaya Kota Bandung yang telah melestarikan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
