Nasib Benny

Kedua, kompilasi ia datang ke bank untuk melunasi menghabiskan adiknya.

Sayangnya ia gagal melunasi sial itu. Bukan karena tiba-tiba tidak mau. Tapi tidak bisa. Saat ia datang ke bank itu banknya sudah tutup. Selamanya. Bank itu dilikuidasi oleh pemerintah di saat Krismon 1998.

Lalu ia datang ke BPPN –yang mengambil alih bank itu. Sebenarnya Benny tidak harus berjuang untuk melunasi hutang adiknya. Toh dokumen-dokumennya hilang.

Tapi, menurut Benny, utang adalah utang. Itu membayar utang adiknya dengan tanah.

Benny menerima 6.000 ha tanah ke BPPN.

Begitu mulianya.

Yakni tanah di Serpong – sekarang siapa yang mengembangkan tanah itu sekarang.

Bank Pikko. Yang akhirnya ditutup itu. Nama Benny hitam di situ.

Ia terbukti melakukan goreng saham. Ialah yang menaikkan dan menurunkan harga saham. Tapi ia bisa lolos. Hanya harus membayar denda. Sebesar keuntungan yang ia dapat. Ia harus menyerahkan seluruh keuntungan dari goreng sahamnya ke kas negara. Negara tanpa tanda jasa. Tapi para pembeli. Uang mereka hangus di penggorengan.

Kini ujian datang lagi. Di Jiwasraya.

Kali ini ia jadi tersangka.

Kita akan melihat persilatan seperti apa lagi yang akan dimainkan Benny.

Hanya saja Benny bukan tipe orang yang suka lari. Ia orang solo dalam pengertian yang sebenarnya. Tanah airnya adalah Solo. Tidak akan lari ke mana-mana.

Siapa pun yang bisa tetap menunggunya di Solo –meski bukan di stasiun Balapan Solo.

Benny hanya salah satu dari mereka yang mendapat aliran dana Jiwasraya.

Bisa jadi yang lain-lain itu bisa lebih rumit dari Benny.

Yang bisa dilakukan, hukum kelihatannya belum tentu uang bisa dikembalikan.

Rasanya jika perlu meminta bantuan Pak Harto – dengan tersenyum pun dapat mengembalikan uang.

Yang penting uang kembali. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan