Nasib Benny

Tidak akan ketahuan –kalau nasibnya baik.

Apalagi jika transaksinya di luar negeri. Seperti di Petral. Atau di Garuda. Yang proses administrasi ada di luar negeri.

Masalahnya, Garuda terkuak hanya karena nasib tadi –di sononya terbongkar.

Maka Benny Tjokrosaputro pasti akan lolos lagi. Secara administrasi ia pasti tidak bisa salah. Semua transaksinya sudah dibuat legal. Apalagi –seperti dikeluarkannya untuk media– ia sudah melunasinya.

Satu-satunya faktor yang bisa membuat Benny ‘kena’ adalah: jika ia menyuap direksi Jiwasraya. Agar Jiwasraya mau membeli surat utangnya. Atau jika ia menyuap siapa pun yang terkait transaksi ini.

Tapi orang seperti Benny pasti teliti. Tidak akan mengirim suap –sebut saja komisi– seperti itu lewat rekening bank. Yang bisa dilacak di kemudian hari.

Kalau pun membayar kontan lewat orang pasti sudah diputus mata rantainya.

Bagaimana kalau direksi Jiwasraya mengaku disogok?

Emangnya mau mengaku?

Benny bukan orang bodoh.

Benny sudah belajar saham utama sejak berumur 19 tahun. Sejak masih SMA. Yakni menggunakan uang jajan dari meminta –si pewaris Batik Keris Solo. Yang terkenal itu. Benny adalah perusahaan pembuat batik itu.

Tapi MTN bukan satu-satunya transaksi antara Jiwasraya dan perusahaan Bentjok.

Masih ada lagi transaksi lewat pasar: beli saham Henson International milik Bentjok.

Jiwasraya belanja saham Henson Internasional harga kompilasi Rp 1.300 / lembar. Sebanyak Rp 760 miliar.

Banyak yang menilai itu kemahalan. Tapi adalah harga resmi di pasar modal. Setahun kemudian harga saham naik drastis. Menjadi Rp 1.865 / lembar.

Saat inilah mestinya Jiwasraya jual saham. Bisa untung lebih dari Rp100 miliar.

Tapi itu tidak dilakukan. Mungkin menunggu harga naik lagi. Setelah itu saham Henson terjun bebas. Ke dasar jurang yang paling dalam: tinggal Rp 50 / lembar.

Tidak ada lagi harga saham yang lebih rendah dari itu. Itulah saham asfalasafilin.

Hitung sendiri hilang seratus miliar uang Jiwasraya hilang.

Saya layak pengamat pasar modal. Juga tidak pernah membeli saham di bursa –sejak tahun 1999. Setelah menghabiskan uang saya habis di bursa saham –akibat krisis moneter terberat dalam sejarah Indonesia. Yang sampai membuat lengser Presiden Soeharto.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan