Pedagang Pasar Atas Mengeluh

Pedagang Pasar Atas Mengeluh
TEMPAT RELOKASI:Kondisi para pedagang di Pasar Atas Barokah Cimahi yang sempit dan becek membuat tidak nyaman para pembeli sehingga berakibat pada penurunan omset para pedagang.
0 Komentar

CIMAHI – Pengelola Pasar Atas Baru (PAB) Kota Cimahi kerap menerima berbagai keluhan dari sejumlah peda­gang setelah adanya relokasi kios menyusul adanya proses pembangunan lanjutan pasar tersebut.

Keluhan muncul dari padagang diantaranya banjir yang kerap membuat becek sekitar kios tersebut setelah turun hujan, sehingga hal itu bisa membuat pengunjung pasar tidak nyaman saat hendak berbelanja.

Koordinator Pasar Atas Baru, Supriadi, mengatakan, piha­kya kerap menindak lanjuti keluhan dari pedagang ter­sebut dengan memberikan solusi yang terbaik agar pe­dagang tidak selalu mengeluh.

Baca Juga:Bupati Penuhi Panggilan BawasluTerima Penghargaan di Bidang HAM

”Untuk banjir kita sudah melakukan penanggulangan dengan membuat saluran, tapi kenyataanya masih meluap saat turun hujan deras,” ujar­nya saat ditemui di Pasar Atas Baru, Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi, kemarin (11/12).

Selain itu, lanjutnya, sejum­lah pedagang juga mengelu­hkan terkait aliran listrik yang kerap konslet dan mati di kiosnya karena terkena air saat turun hujan.

”Padahal mereka hanya membayar retribusi untuk listrik, pengangkutan sampah dan kemanan itu hanya 1500 per hari.Tapi mereka masih banyak mengeluh,” katanya.

Untuk membayar listrik di 280 kios pedagang, Supriadi mengatakan, pihak dari peng­elola pasar harus mengelu­arkan Rp 30 juta per bulan.

”Para pedagang terlalu ba­nyak menuntut terhadap pi­hak pengelola pasar, padahal mereka sudah diberikan fa­silitas gratis untuk berjualan selama proses pembangunan lanjutan pasar ini belum se­lesai,” katanya.

Salah seorang pedagang sembako, Maman Sutarman, 60, mengaku, setelah adanya relokasi kios tersebut penda­patannya menurun karena langganannya sudah jarang datang untuk membeli sem­bako ke kiosnya.

”Selama pindah kesini (kios relokasi) omset menurun dan itu tak hanya dirasakan saya sendiri. Saya tanya ke pedagang yang lain juga omset sama (menurun),” katanya.

Baca Juga:Tuntaskan Rekam Cetak KTP-elHajat Perdana Royal Enfield Indonesia

Sebelum adanya relokasi tersebut, ia bisa menjual telor dalam sehari sebanyak 150 kilogram, namun setelah direlokasi ia hanya bisa men­jual sebanyak 90 kilogram.

”Itu pun saya harus berjua­lan hingga sore hari, karena pembelinya sepi.Saya kira pembeli malas kesini karena tempatnya kurang nyaman, becek dan sempit apalagi saat ini musim hujan,” katanya.

0 Komentar