Maskapai Lion Air Segera Dievaluasi

”Ini yang paling penting, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan bersama Lion Air menjelaskan penyebab kecelakaan ini. Apakah kecelakaan hari ini karena ada pelanggaran undang-undang yang terjadi atau tidak. Ini harus dijelaskan ke publik agar ke depannya keselamatan dalam penerbangan tidak diragukan atau mengkhawatirkan lagi,” tutupnya.

Berbeda dengan Fahri, Ketua Komisi V Fary Djemy Francis menyebut respon time pemerintah mengumumkan jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 lama sekali. Menurut dia, pengumuman jatuhnya pesawat itu setelah ada pengumuman dari kantor SAR di Jakarta pada pukul 07:00.

”Sudah muncul informasi sejak pukul 07.00 dari Kantor SAR Jakarta, bahwa kapal AS Jaya 11 melihat pesawat Lion Air jatuh. Saat melihat, posisi kapal berada di koordinat 05º 49.727 S 107º 07.460 E arah Timur Laut, namun baru diinfokan pada Pukul 09.00 WIB. Seharusnya dalam waktu 2 jam itu banyak kesempatan untuk melakukan pencarian dan pertolongan,” kata Fary Djemy Francis kepada wartawan di DPR, Jakarta, Senin (29/10).

Fary beralasan kecelakaan penerbangan itu membuat waktu bergerak sangat cepat, dan seharusnya pemerintah juga membuat keputusan dengan cepat. Dia mengatakan kecepatan dalam mengambil keputusan harus dilakukan pemerintah karena banyak penumpang dan tingginya potensi korban jiwa.
”Karena dengan kecelakaan penerbangan waktu bergerak sangat cepat, dan keputusan juga harus dibuat cepat, karena menyangkut banyak penumpang dan tingginya potensi korban jiwa,” katanya.

Beberapa keanehan yang terjadi dalam jatuhnya pesawat Lion Air juga harus segera dijawab oleh Perhubungan dan maskapai berlogo singa itu, di antara yang akan ditanyakan DPR arah tujuan dari pesawat dan apakah alat penunjuk jalan pesawat itu berfungsi dengan baik.

”Perlu didalami pula mengapa arah pesawat menuju ke Timur Laut, sedangkan tujuan pesawat ke Pangkal Pinang, yaitu arah Utara. Ke dua yang perlu dipertanyakan mengapa ELT (Electronic Locator Transmitter) tidak berfungsi dan tidak dapat dideteksi/terdengar oleh Kantor Pusat Basarnas. Mengapa hal ini (ELT tidak terdeteksi) terjadi berulang ulang. Hal ini harus menjadi evaluasi pemerintah,” kata Ketua Komisi V DPR ini. (nal/rba/gat/fin/ign)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *