Tenaga Kontruksi Belum Disertifikasi

Tenaga Kontruksi Belum Disertifikasi
MASIHKONVENSIONAL:Dua orang pekerjabangunan sedangmelakukanpengecoran padasebuah bangunankomplek perumahandi KabupatenBandung.
0 Komentar

BANDUNG – Tenaga kerja konstruksi di Jawa Barat berjumlah 2 juta orang lebih. Namun, sampai saat ini yang memiliki sertifikasi masih sangat minim.

Pengurus Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Jabar, Asep Candra Supriatna mengatakan, memperoleh sertifikasi sebetulnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing dengan pekerja asing. Sebab, saat ini tenaga asing sudah sangat banyak bekerja di sektor kontruksi di Indonesia.

Dia menyebutkan, tahun ini hingga akhir Juni kemarin, baru sekitar 6.200 orang tenaga kerja konstruksi Jabar yang telah mengikuti sertifikasi. Sehingga, pihaknya menarget mampu mensertifikasi sebanyak 20.000 orang.

Baca Juga:Mahasiswa Tanam Ganja Dalam LemariKado Akui Keunggulan Pasangan Akur

’’Melihat realisasi hingga akhir tahun yang masih kecil, diharapkan hingga akhir tahun paling sedikit 18.000 orang tenaga kerja konstruksi Jabar mengikuti program sertifikasi,’’jelas Asep ketika ditemui di gedung sate kemarin. (6/7).

Menurutnya, kondisi serupa terjadi secara nasional. Berdasarkan data LPJK, hingga akhir 2017 baru sekitar 720.000 dari 8,1 juta orang tenaga kerja sektor konstruksi Indonesia yang mengantongi sertifikasi, atau kurang dari 10%.

Chandra menilai rendahnya jumlah tenaga kerja konstruksi yang sudah mengantongi sertifikasi tersebut, disebabkan masih rendahnya kesadaran akan pentingnya sertifikasi. Padahal, sertifikasi dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing di tengah gempuran tenaga kerja asing (TKA).

“Saat ini tenaga kerja asing sudah bersiap memasuki Indonesia. Untuk level tenaga ahli, sudah cukup banyak tenaga kerja asing yang bekerja di sektor konstruksi. Untuk level tenaga terampil tinggal menunggu waktu,” ujarnya.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan, jumlah TKA di sektor konstruksi nasional mencapai 1.979 orang. Sebanyak 74 persen diantaranya bekerja di proyek Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing (BUJKA) dan 26 persen di proyek Penanaman Modal Asing (PMA). Dari jumlah tersebut, 36,68 persen TKA berasal dari Jepang. Diikuti Korea Selatan sebanyak 17,45 persen, Cina 11,47persen, dan Malaysia 1,69 persen.

Demi mendorong sertifikasi tenaga kerja kontruksi lokal, lanjut dia, sebetulnya pemerintah menyediakan program sertifikasi gratis. Tahun ini kuota untuk Jabar disiapkan sebanyak 3.000 orang. “Target pemerintah, pada 2019 sebanyak 3 juta tenaga kerja di sektor konstruksi nasional sudah mengantongi sertifikasi,” jelasnya.

Sementara itu, Pejabat Gubernur Jabar Mochammad Iriawan mendorong agar tenaga kerja sektor konstruksi melakukan sertifikasi. Langkah tersebut dinilai sangat penting untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja.

0 Komentar