Devania Bocah 8 Tahun Taklukkan 9 Gunung di Indonesia

Devania Bocah 8 Tahun Taklukkan 9 Gunung di Indonesia
DOK. PRIBADI UNTUK JABAR EKSPRES
MENGURAS TENAGA: Devania bocah 8 tahun siswa SD Negeri Cimahi Mandiri 1 ini sudah berani naik gunung Rinjani hingga ketinggian 3.762 meter di atas permukaan laut.
0 Komentar

Berawal dari ibunya yang khawatir meninggalkan Devania sendirian di rumah saat akan mendaki gunung. Kini, malah dia jadi ketagihan untuk mendaki gunung. Bagaimana pengalamannya berikut liputannya.

Nur Aziz, Cimahi.

BANYAK orang tak percaya jika bocah mungil yang baru duduk di kelas 1 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cimahi Mandiri 1 itu. Telah berhasil menaklukkan sembilan gunung di Indonesia.

Bocah kelahiran Cimahi, 6 April delapan tahun silam ini bahkan terakhir menaklukkan gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat. Caca sebutan bocah berusia 8 tahun itu, mendaki gunung Rinjani pada 6-12 Mei 2018 lalu. Caca mendaki gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 meter diatas permukaan laut (dpl) itu bersama kedua orang tuanya.

Baca Juga:Puasa di Islandia Sampai 22 JamPenyelenggaraan Pilkada Diminta Tidak Terganggu

Rencana awal pendakian ke salah satu gunung tertinggi di Indonesia, ketika Caca melihat album poto ibu dan ayahnya saat pendakian ke Gunung Rinjani beberapa tahun sebelum Caca mulai hobi naik gunung.

Namun bagi Caca, Nuni (ibunya), dan Asep (ayahnya), pendakian ke Gunung Rinjani jadi pendakian yang paling mengesankan dan menguras banyak tenaga serta pikiran termasuk juga biaya.

”Jadi awalnya itu, Caca lihat album foto saya sama ayahnya waktu mendaki ke Gunung Rinjani. Mungkin dari situ dia tertantang dan pastinya sih ketagihan setelah beberapa kali pendakian. Makanya langsung kita rencanakan berangkat ke Rinjani. Dia minta dispensasi ke sekolah selama 5 hari, dan alhamdulillah diizinkan,” ucap Nuni saat ditemui di SD Negeri Cimahi Mandiri I, kemarin (21/5).

Di Rinjani itulah, kecemasan dan kekhawatiran serta naluri keibuan Nuni muncul. Pada pendakian itu, Caca membuat Nuni dan Asep was-was, karena ketika beristirahat, Caca sama sekali tak bergerak saat dibangunkan.

”Waktu di Rinjani, hampir sampai ke puncak itu sekitar jam 4 pagi. Dia sudah benar-benar ngantuk karena bisa terlihat dari kondisinya. Akhirnya kita cari tebing yang tidak tertiup angin. Dia tidur pulas, tapi kayak yang pingsan, karena kita bangunkan tidak bergerak. Takutnya dia hipotermia, dan amit-amit kalau lebih buruk, soalnya suhu itu 5 derajat. Setelah didudukkan sama ayahnya, alhamdulillah dia bangun, ternyata dia cuma terlalu lelah,” tutur Nuni.

0 Komentar