Dalam konteks inilah kompetensi dan profesionalisme (pendidikan) serta integritas akhlak para pemimpin lembaga pendidikan tersebut akan menjadi unsur vital bagi munculnya ruh dalam pola dan strategi proses pendidikan yang dilaksanakan. Baihaqi (2015): menganggap ruh demikian ini adalah sebuah taste (rasa) dalam kelangsungan proses pendidikan tersebut, ruh ini akan terasa manakala semua pihak yang terlibat dalam urusan pendidikan ini berkomitmen untuk menjadikan pendidikan (sekolah) sejatinya sebagai tempat membangun dan mengembangkan peradaban dengan karakter kuat bukan sebagai alat dan kesempatan untuk melanggengkan praktik-praktik ”hubbud dunya” .
Lalu bagaimana kita dapat mengembalikan ”ruh” sekolah (pendidikan) yang hilang tersebut? Adalah ”Karakter Kepemimpinan Pendidikan” yang harus kita terapkan kembali dalam praksis penyelenggaran pendidikan agar pendidikan (sekolah) mendapatkan kembali ”ruh”nya.
Ruh pendidikan (sekolah) dasarnya adalah pendidikan karakter yang mensyaratkan adanya kepemimpinan yang berkarakter dari pemimpin pendidikan (birokrasi), guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.
Baca Juga:Melejitkan Prestasi Sekolah Melalui Kerjasama Dengan Sekolah Luar NegeriPersib Merasa Diperlakukan Tak Adil
Dalam konteks inilah karakter kepemimpinan yang kita cari perlu memiliki empat kualitas sebagai berikut. Pertama, sense of purpose. Pemimpin harus memberikan arah atau tujuan. Ke mana arah kebijakan pendidikan mau dibawa?
Meningkatkan APK-kah atau meningkatkan mutu pendidikan atau kedua-duanya? Kedua, sense of servanthood. Seorang pemimpin adalah pelayan. Pemimpin yang sejati mesti menjadi seorang pelayan publik bukan sebaliknya, ia adalah seorang workholic yang secara berkelanjutan terobsesi menghadirkan ekosistem pendidikan yang serba ramah (dalam arti positif). Ia selalu gelisah ketika momen-momen pendidikan tidak memenuhi harapan stakeholder pendidikan.
Dalam pandangan Jonatan A. Lassa (2018): seorang pemimpin dengan sense of servanthood akan merasa terganggu manakala ia dikelilingi para conformist, yakni kerumunan orang-orang di sekitarnya yang bermain drama dengan mencium tangan dan atau pura-pura tunduk menyembahnya dengan puji-pujian palsu yang menyenangkan telinganya.
Seorang megalomaniak tidak mungkin menjadi pemimpin yang melayani. Ketiga, sense of solidarity. Pemimpin yang solider merangkul semua yang berbeda. Merangkul bukan dengan uang; bukan dengan ancaman apalagi dengan cara-cara yang koersif. Manakala bawahannya atau kepala sekolah, guru bahkan siswanya menghadapi masalah, ia tidak diam, tidak tidur apalagi menyangkal.
