Kalau itu mah gak begitu saya pikirkan ya. Toh buktinya saya sekarang berangkat dan pulang naik mobil saya. Lagipula, bukan bermaksud sombong, mobil di rumah saya sudah banyak. Jadi fasilitas mobil negara, tidak terlalu saya pikirkan.
Apa yang paling berbeda yang Bapak rasakan saat menjadi Ketua DPR?
Hal yang paling berbeda, menurut saya ialah terkait protokoler yang begitu ketat. Kemana-mana, dalam melakukan aktivitas, saya mendapat pengawalan dari Kepolisian. Hal itu yang membuat saya sedikit canggung.
Baca Juga:Pemilih Buta ElektabilitasRossoneri Bisa Dilelang
Pada dasarnya, saya senang menjalankan aktivitas secara mandiri dan jangan sampai tersorot publik. Karena kan kita ini wakil rakyat, jangan sampai ada jenjang atau jarak dengan rakyat.
Apakah bapak memiliki program untuk lebih merakyat kepada masyarakat?
Kalau merakyat, jelas itu harga mati. Kita dipilih oleh rakyat. Jadi, ya kalau tidak melayani rakyat, bagaimana dapat terpilih kembali sebagai wakil rakyat.
Apa pesan Bapak untuk disampaikan kepada anggota?
Di sini, saya hanya ingin peran Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) lebih melakukan sosialisasi kepada semua anggota terkait kode etik.
Sebenarnya, semua anggota dewan memiliki kode etik. Di mana kesantunan dan pelayanan kepada masyarakat sudah tercantum dalam kode etik itu. Namun, peran MKD tidak terlihat secara maksimal. Inilah yang akan saya kembangkan.
Sehabis menjadi Ketua DPR, adakah optimisme untuk meraih jenjang lebih tinggi?
Saya sampai saat ini sudah cukup menjadi Ketua DPR. Untuk yang lebih tinggi, saya belum mau. Saya lebih memilih menyediakan waktu kepada keluarga untuk berkumpul, sekaligus bersenda gurau.
Saya bekerja kan untuk mereka. Saat tua seperti ini, sudah waktunya saya fokus kepada keluarga. Bahagiakan mereka.
Baca Juga:Maourinho Segera Teken Kontrak BaruStatistik Ghozali Siregar Bisa Jadi Jawaban
Lagipula, saya terpilih menjadi Ketua DPR, atas inisiasi rekan-rekan partai. Lalu, tiba tiba ketua umum (Golkar) menunjuk dan mempercayakan kepada saya. Saat ini, saya jalankan dengan nurani dan keihlasan.
Sebagai seorang politisi, siapa tokoh politik panutan Bapak?
Selain semua Ketua Umum Golkar, saya memiliki panutan yakni Soekarno dan Hatta, yang dengan segala perbedaannya dapat menyatukan NKRI seperti saat ini. Tentunya, hal tersebut patut dicontoh dan ditiru.
