Rumah tersebut tidak lain adalah milik Irin Ridwanto, warga berusia 51 tahun yang saat ini terpaksa menumpang di rumah orang tuanya.
Bagaimana tidak, pascagempa, dia dan keluarga hanya sekali diizinkan keluar masuk rumah. Yakni untuk menyelamatkan surat dan barang berharga. Alasannya tidak lain demi keselamatan. ”Alhamdulillah sudah semua,” katanya.
Maklum, satu kali guncangan lagi, rumah Irin bisa jadi sudah rata dengan tanah. Bayangkan bila ada orang di dalamnya. Akibat langkah tegas tersebut, Irin kini harus memikirkan nasib tempat tinggalnya. ”Sampai sekarang (kemarin) belum ada kepastian,” kata dia pelan.
Baca Juga:Hari Ini, 10 Ribu Guru Tumplek SOR ArcamanikKecewa karena Emil Buka Konvensi
Irin berharap besar bantuan pemerintah segera turun. Dengan demikian, dia bisa segera memulai renovasi dan kembali menempati rumah kesayangannya bersama istri dan anak-anaknya.
Aco dan Irin hanya sampel dari ratusan warga Kecamatan Pamarican lainnya yang turut terdampak gempa. Dari total 560 rumah rusak, masih ada 82 rumah lain yang terdata mengalami rusak berat, 125 rusak sedang, 227 rusak ringan, dan 124 belum teridentifikasi.
Setidaknya data tersebut masih berlaku sampai Sabtu tengah malam lalu. Hingga saat ini petugas masih terus bekerja. Mendata setiap bangunan rusak.
Yang pasti, jumlah 560 rusak di satu kecamatan adalah yang terbanyak. Bukan hanya di Kabupaten Ciamis, tapi juga di seluruh wilayah kabupaten dan kota di Jabar yang terdampak gempa. Mengutip data terakhir BNPB, secara keseluruhan tidak kurang dari 2.935 unit rumah yang rusak.
Tidak heran, khusus untuk Pamarican, BPBD Ciamis membuat posko. Sebab, bukan hanya ratusan rumah yang rusak, warga yang terdampak pun cukup tinggi. Menurut data terakhir, tidak kurang dari 200 warga mengungsi. Sisanya tinggal di rumah kerabat dan saudara.
Untung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka di kecamatan tersebut. Malah, korban jiwa terdata ada di Dusun Desa, Desa Gunungsari, Kecamatan Sadananya. Desa yang termasuk salah satu desa tangguh bencana. ”Sudah sejak enam bulan lalu jadi desa tangguh bencana,” ucap Kepala Dusun Desa Enjang Heriyanto.
Kalaupun tetap ada korban jiwa dan korban luka, penyebabnya adalah gempa terjadi tengah malam. Jadi, meski penyuluhan dan sosialisasi telah diberikan, banyak warga yang sudah lelap tidur. Sehingga langkah antisipasi gempa yang sudah disampaikan maupun dilatihkan tidak seluruhnya terimplementasi.
