Untuk Jalan 700 Meter, Butuh 3 Ton Limbah Kresek

kresek-aspal
Juneka Subaihul/Jawa Pos
LEBIH LENGKET: Deded P. Sjamsudin (kiri) dan Nyoman Suaryana di laboratorium untuk pengecekan kekuatan aspal plastik di Pusjatan, kota Bandung.
0 Komentar

Pusjatan sebenarnya sudah melakukan riset terkait aspal tersebut sejak lama. Tapi, Deded mengakui, penelitian dan penerapan limbah plastik untuk aspal itu bergairah kembali setelah ada video viral dari peneliti India Rajagopalan Vasudevan.

Pusjatan juga mengirim tim ke India untuk melihat langsung proses pencampuran limbah plastik dan aspal ala Vasudevan. Sekaligus menimba ilmu dari yang bersangkutan.

Tapi, ilmu pencampuran plastik dengan aspal dari India tersebut tidak bisa diterapkan 100 persen di Indonesia. Sebab, kebutuhannya berbeda. Mulai karakteristik agregat, kondisi permukaan tanah, cuaca dan iklim, hingga persyaratan komposisi hot mix yang juga berbeda. ”Kita pun pakai jurus ATM: amati, tiru, modifikasi,” ucapnya lantas tersenyum.

Baca Juga:Siapkan Lowongan Kerja di Job FairPDIP Bakal Berkoalisi

Proses keseluruhan untuk menghasilkan aspal plastik itu berliku. Pada awal Juli lalu itu, setelah mendapatkan 5 kilogram cacahan plastik kresek dari pengepul, Nyoman dan tim membawanya ke laboratorium Balai Perkerasan Jalan Pusjatan yang ada di Bandung.

”Sebelumnya kami juga sudah menguji coba dalam skala lab. Beli plastik kresek di pasar, lalu dicacah sendiri dengan digunting kecil-kecil,” lanjut doktor alumnus ITB pada 2014 tersebut.

Cacahan plastik yang telah dibersihkan itu lalu diayak dengan ukuran 4 milimeter. Hasilnya dicampurkan pada agregat yang terdiri atas batu berukuran seukuran ibu jari atau lebih kecil. Selama 20 detik.

Agregat dipanaskan sebelumnya dengan suhu 170 derajat Celsius. Campuran tersebut masih dipanaskan dengan suhu 160 derajat Celsius dengan aspal selama 30 detik.

Menurut Nyoman, kresek dipilih karena bisa meleleh dalam suhu 170 derajat Celsius. Sedangkan bahan plastik lain, misalnya botol mineral, butuh suhu 200 derajat Celsius. Alasan lain, selama ini tas kresek jarang dimanfaatkan untuk daur ulang.

Campuran limbah plastik itu sebenarnya tidak terlalu banyak. Hanya sekitar 6 persen dari total kebutuhan aspal. Sedangkan persentase aspal untuk campuran hot mix itu sekitar 6 persen saja. Selebihnya adalah agregat dari batu-batu pecah.

”Enam persen plastik itu yang paling ideal karena bisa memperkuat aspal jadi makin lengket. Kalau 10 persen atau 15 persen malah tidak kuat,” ungkap Nyoman.

Baca Juga:Bongkar Minimarket IlegalBBKSDA Lepas Liarkan Owa Jawa

Sisa contoh tekstur campuran plastik aspal di laboratorium Pusjatan, seperti disaksikan Jawa Pos (Jabar Ekspres Group)  pada Senin lalu (31/7), memang terkesan agak lengket. Tapi tidak sampai seperti lem. Lengketnya sekilas mirip nasi panas yang dipencet.

0 Komentar