Pengangkatan berikutnya, ada delapan serpihan yang terambil. Disusul empat serpihan lain pada penanganan setelahnya. Namun, di luar operasi, kadang serpihan tersebut masih muncul dengan sendirinya. ”Kita lagi makan di kantin, lalu tiba-tiba Yogi kulik-kulik tangannya, lalu keluarkan serpihan. Kadang ada juga kerikil,” lanjut pria 52 tahun itu.
Yuli bersyukur Yogi mendapatkan perawatan yang baik. Kali terakhir, RS NSEC menyatakan bahwa pendarahan Yogi sudah berkurang. Jahitannya juga tinggal menunggu kering. Itu jahitan di luar saja, tidak sampai di dalam. Sebab, sebelumnya sempat diketahui ada urat yang putus di sekitar mata Yogi.
Terpisah, Kepala RS Polri Kramat Jati Brigjen dr Didi Agus Mintadi SPJp DFM menjelaskan, secara umum gangguan yang dialami hampir seluruh korban bom Kampung Melayu adalah gangguan telinga. Ada lima hingga enam orang yang mengalami gangguan. Tapi, itu bisa diatasi dengan rawat jalan. Tidak perlu rawat inap.
Baca Juga:Dishub Berharap Pelajar Dilarang Bawa KendaraanDi Pilgub Demokrat Jadi Kubu Peyeimbang
Masa penyembuhan tiap-tiap korban juga berbeda. Bergantung seberapa parah dampaknya pada gendang telinga. ”Kalau (gendang telinganya) pecah, bila dia usianya masih muda, akan menyambung sendiri. Butuh waktu sekitar tiga bulan,” terang mantan Kabiddokkes Polda Jatim tersebut.
Sementara itu, yang gendang telinganya masih utuh akan diberi terapi dengan tekanan tinggi. Diperkirakan, dengan terapi tersebut, dalam waktu satu sampai dua bulan telinganya bisa kembali normal. Untuk yang gendang telinganya pecah, terapi baru akan diberikan setelah menyambung kembali. (*/c9/ttg/rie)
