Jaraknya terbilang dekat, tidak sampai 5 meter dari arah kiri depan. Sesudah itu dia dibopong orang menuju tempat aman. ”Alhamdulillah, saat itu saya masih sadar, termasuk sampai berada di ICU (RS Premiere).”
Setelah beberapa hari dirawat, kenang Yogi, atas saran Presiden Jokowi dan Kapolri, dirinya dibawa ke Singapura untuk mengobati mata. Selama 25 hari Yogi menjalani pengobatan di Singapore National Eye Centre (SNEC) yang juga menjadi lokasi perawatan penyidik andalan KPK Novel Baswedan.
Yogi baru kembali ke Indonesia menjelang Idul Fitri lalu. Dengan catatan masih harus berobat jalan di RS Polri. Seluruh biaya pengobatannya ditanggung negara.
Baca Juga:Dishub Berharap Pelajar Dilarang Bawa KendaraanDi Pilgub Demokrat Jadi Kubu Peyeimbang
Yang paling berbahagia atas lolosnya Yogi dari serangan bom tentu saja kedua orang tua. Puji mengingat bagaimana tubuhnya langsung lungkruh begitu mendengar putra sulungnya itu menjadi salah seorang korban bom. ”Lemas, hampir pingsan, akhirnya baru besok paginya saya ke Rumah Sakit Premiere (tempat Yogi dirawat, Red),” ucap Puji penuh syukur.
Yuli Hari Utomo, sang ayah, mengisahkan bagaimana dirinya lebih memilih naik taksi daripada meminta pengawalan Polres Depok menuju lokasi. Pada malam nahas itu Yuli masih berada di kantor.
”Saya merasa terlalu lama kalau harus ke polres. Saat melihat ada mobil polisi melaju kencang (ke Kampung Melayu, Red), saya suruh sopir taksi mengikuti,” cerita pria asal Jombang, Jawa Timur, tersebut.
Namun, Yuli tetap tertahan oleh polisi di dekat lokasi. Yuli langsung menyampaikan kepada sang petugas bahwa dirinya ayah korban. Saat itu dia belum tahu Yogi dibawa ke RS Premiere di Jatinegara. Akhirnya dia mencegat ojek di sekitar lokasi dan meminta diantar ke RS terdekat karena yakin Yogi dibawa ke RS tersebut.
Begitu Yuli tiba di RS Premiere, Yogi baru saja akan menjalani radiologi. Namun, Yuli belum yakin yang dilihatnya adalah anaknya. Dia lalu berteriak, ”Yogi, makan jam berapa? Jam tiga. Dia jawabnya kencang dan langsung saya peluk.” Sesaat kemudian, dia diminta menandatangani sejumlah dokumen izin untuk operasi.
Yuli terus mendampingi anak pertama di antara tiga bersaudara itu ketika dirawat. Terutama saat pengangkatan serpihan dari dalam tubuh. Sedikitnya Yogi sudah tiga kali menjalani operasi pengangkatan serpihan. ”Hari pertama itu dapat serpihan sebanyak setengah gelas air mineral,” ungkapnya.
