Totong mengungkapkan jika pola penyebaran paham komunis juga dilakukan secara virtual dan tidak terlihat. Tahapan pertama yang terus dilakukan oleh pengenut paham tersebut adalah melemahkan mental anak-anak muda. Ia mencontohkan jika narkoba, miras, seks bebas, perpecahan agama, dan segala hal negatif yang akrab dengan dunia anak muda adalah buktinya.
“Strateginya tentu tidak akan terlihat. Apa kita sadar kalau miras, narkoba, seks bebas, perpecahan antar umat yang terjadi belakangan tanpa ada sebab dan muaranya? Intinya itu kan untuk melemahkan mental anak-anak penerus bangsa, dan kita yang harus waspada,” bebernya.
Ia mengakui jika tugas pihaknya sebagai satu-satunya elemen inti untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara sangatlah berat. Terkait pihak-pihak yang tinggal di Indonesia namun ingin menerapkan ideologi lain selain pancasila, hal tersebut patut dipertanyakan.
Baca Juga:Warga Panyileukan Terima Bantuan BPNTKanwil Ditjen Pajak Papua-Maluku Hentikan Upaya Penyanderaan
Meskipun jika dilihat secara global, ideologi komunis berhasil diterapkan di Cina, bukan berarti hal yang sama akan berhasil diterapkan di daerah lain. Sebab menurutnya, Pancasila merupakan paham yang paling sempurna untuk diterapkan di Indonesia yang kaya akan keberagaman.
“Ketika komunis berhasil diterapkan di Cina misalnya, tentu itu tidak akan berhasil diterapkan di tempat lain, terbukti di Indonesia. Pancasila sempurna untuk Indonesia karena keberagamannya,” katanya.
Ia menegaskan jika Indonesia, dengan segala carut marutnya yang terjadi belakangan ini, butuh lagi momen untuk menguatkan bahwa ideologi Pancasila itu adalah sebuah kebutuhan bagi semua warga negara, dengan demikian kerawanan terkait tumbuhnya paham komunis bisa diperkecil.
“Wawasan kebangsaan mungkin harus lebih gencar lagi diterapkan dalam kehidupan, terutama anak-anak sekolah. Jangan sampai NKRI tinggal.nama saja seperti Sriwijaya, Majapahit, karena penerusnya abai terhadap nasib bangsa,” pungkasnya. (bun/ign)
