Warga Enggan Mengungsi

Warga Enggan Mengungsi
TETAP BERAKTIVITAS: Wargamelakukan aktivitas di tengahbanjir akibat luapan SungaiCitarum di Kampung Bojong Asih,Desa Dayeuhkolot, KecamatanDayeuhkolot, KabupatenBandung, Kamis (2/3).
0 Komentar

Dadang juga mengungkapkan, BPBD Kabupaten Bandung telah dipersiapkan 30 personel yang siap siaga, 1 unit eskavator, perahu karet, motor dan mobil rescue, mobil dapur umum, WC mobile. Logistik seperti Family Kit, terpal, selimut, cangkul, sekop, karung, tikar lipat, tikar plastik, selimut, matras, paket kesehatan keluarga, Kids ware, masker, air mineral dan makanan siap saji juga sudah dipersiapkan.

”Logistik dan peralatan ini nantinya akan dikirimkan sesuai dengan kebutuhan di masing-masing daerah yang rawan bencana, ada Protap dan SOP nya. BPBD pun cukup siap menghadapi berbagai bencana rutin tahunan maupun bencana tiba-tiba yang setiap saat bisa terjadi,” ungkapnya.

Sedangkan, untuk wilayah Baleendah dan Dayeuhkolot telah disiapkan 20 personel yang selalu stand by, ditambah 3 buah perahu karet, 3 unit sepeda motor, 3 unit mobil Rescue dan Dapur Umum, semua disiapkan di Baleendah.

Baca Juga:Slogi Entertainment Bina Musisi LokalAjak Anak Muda ’Unjuk Gigi’

Lebih lanjut lagi Dadang menjelaskan, untuk posko posko pengungsian sudah disiapkan, untuk wilayah Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang yaitu di Gedung Inkanas. Fokus pembersihan saluran air di wilayah ini juga tengah dilakukan. Bekerjasama pula dengan Dinas Sosial untuk penyaluran logistik, 500 jiwa 215 KK di beberapa titik pengungsian.

Menurut dia, toilet, tangki air bersih akan mudah disalurkan jika masyarakat tidak membuat posko pengungsian sendiri-sendiri. Jika masyarakat korban bencana semua berada di posko-posko pengungsian yang disediakan Pemerintah maka masyarakat diupayakan terlayani baik air bersihnya, obat-obatannya, maupun bahan makanannya.

”Saya mengimbau kepada masyarakat korban bencana untuk tidak membuat posko sendiri agar penyaluran logistik kepada korban banjir lebih mudah dan satu pintu,” tutupnya.

Sementara itu, akibat SD Negeri 1 Andri terendam banjir, ratusan siswa terpaksa belajar di asrama Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dengan ukuran 6×2,5 meter persegi. Terlihat dengan jumlah siswa yang banyak dan ruangan yang kecil membuat siswa harus berdesak-desakan saat belajar.

Kepala Sekolah SDN 1 Andir Ade Supriyadi, 53, mengungkapkan siswa mulai belajar di asrama SKB sejak Senin (27/2). Sebab sekolah sudah terendam banjir dengan ketinggian mencapai 150 cm. Partisipasi siswa yang mengikuti pelajaran sekitar 70 persen karena sebagian siswa ada yang masih di tempat banjir.

0 Komentar