Demi Anak, Rela Lepaskan Gaji Besar di Perusahaan

Demi Anak, Rela Lepaskan Gaji Besar di Perusahaan
NARENDRA PRASETYA/JAWA POS
SUDAH TIGA TAHUN: Agus Sudrajat (kiri) di toko suvenirnya di Tokyo, beberapa wajtu lalu. Toko itu jadi jujukan turis karena harga barangnya lebih murah daripada di toko lain
0 Komentar

”Seperti tadi pagi, saya gendong Eri sampai pinggir jalan untuk menunggu bus sekolah yang menjemputnya. Begitu juga pulangnya,” ujar Agus.

Setelah keluar dari pekerjaan itulah, muncul gagasan dari kenshusei (pekerja magang dari Indonesia) yang berada di Tokyo agar Agus membuka usaha toko suvenir saja. Simpel alasan yang disampaikan para kenshusei: setiap tahun banyak orang Indonesia yang pergi ke Jepang dan pasti mencari suvenir untuk oleh-oleh saat pulang.

”So, mengapa saya tidak coba ide itu? Apalagi dengan harga yang lebih murah daripada di toko lainnya. Pasti pembeli, terutama dari Indonesia, akan belanja banyak ke toko saya,” bebernya.

Baca Juga:Polri Endus Bahrun Naim Di Balik Teroris PurwakartaTambah Fasilitas, Tingkatkan Minat Baca

Agus memang dekat dengan kenshusei. Sebab, sejak belum punya anak, dia dan istrinya sudah kerap membantu kenshusei. Bahkan, di akhir pekan, rumahnya yang terletak tidak jauh dari toko mereka selalu ramai didatangi kenshusei. Kebanyakan di antara mereka datang untuk belajar bahasa Jepang kepada Hiroko. Mereka akan mendatanginya lebih banyak lagi saat mendekati masa-masa ujian bahasa atau Nihongo Noryoku Shiken.

Tidak hanya memberikan ide, para kenshusei didikan Agus juga membantunya, mulai mengecat toko, menata dekorasi toko, sampai mempromosikan kepada orang-orang Indonesia yang datang ke Jepang untuk mampir ke JSS. Saat kembali ke tanah air, mereka juga membeli suvenir di toko Agus tersebut.

Hanya, diakui Agus, tidak mudah awal-awal ketika dirinya membuka toko itu. Sebenarnya, JSS buka pada Agustus 2013. Tapi, lantaran persoalan administrasi perizinan yang rumit di Jepang, toko tersebut baru buka Oktober 2013 atau mundur dua bulan. Kini, setelah tiga tahun berjalan, usaha Agus itu telah berbadan hukum resmi sejak Juni 2016 dengan nama JSS International Co Ltd.

Mengapa Agus bisa menjual barangnya lebih murah daripada di toko lain? Usut punya usut, karena Agus mengambil barang-barang dagangannya dari produsen langsung tanpa melalui distributor seperti kebanyakan toko.

Selain itu, Agus bersedia barter kreativitas dengan produsen suvenir, tempat dia kulakan. Pria yang masih kental logat Sundanya tersebut sering membuatkan desain-desain gambar untuk diproduksi di perusahaan itu. Di antaranya menjadi gantungan kunci, tempelan kulkas, sampai kakejiku (hiasan dinding dari kain yang bisa digulung). ”Saya tidak minta hak cipta dari desain saya itu. Saya hanya meminta harga khusus,” ungkap Agus. Bagi produsen, cara tersebut bisa menghemat biaya desain.

0 Komentar