Karena nama turnya mentereng dan menjanjikan experience ala korban gempa bumi, saya sudah membayangkan betapa serunya. Benar saja, tur tersebut memang seru banget. Saat berangkat, kami diminta memilih, ingin merasakan pengalaman gempa di rumah tapak atau di gedung bertingkat. Saya memilih di rumah tapak.
Setelah memilih, kami diminta mengarahkan smart camera di tablet itu ke gambar yang terpampang di atas lift. Kemudian, klik next untuk melanjutkan tur. Layar tablet itu menampilkan pertanyaan.
”Jika Anda terjebak di lift saat gempa, apa yang sebaiknya Anda lakukan? (A) Menekan semua tombol lift dan keluar dari lantai terdekat atau (B) menunggu hingga pertolongan tiba.”
Baca Juga:Material Longsoran Mulai DibersihkanSikat Pungli Meski Recehan
Dengan pede saya menjawab B, menunggu bala bantuan. Eh, rupanya, itu bukan pilihan yang bijak. Ternyata yang benar adalah A. Pokoknya harus bisa keluar dari lift, bagaimanapun caranya.
Kami lantas dikurung di dalam lift, sejurus kemudian, lift terguncang. Semula pelan, lalu semakin kencang. Pengunjung perempuan dari Korea yang berdiri di depan saya ketakutan. Apalagi suasana di dalam lift gelap.
Tidak sampai semenit, pintu lift terbuka di sisi yang berlawanan. Pemandangan yang menyambut kami sangat mengerikan. Masih dalam suasana gelap, kami tiba di replika real size sebuah distrik perbelanjaan yang baru saja dilanda gempa bumi.
Kaca-kaca pecah di toko swalayan, kebakaran di kafe, tiang listrik roboh, dan stasiun kereta api yang terbengkalai. Benar-benar seperti sedang berada di kota yang terkena gempa. Kalah deh The Haunted Mansion-nya Tokyo Disneyland!
Tablet kami pun memunculkan petunjuk baru. Berbekal peta yang diberikan via tablet, kami harus menuju titik tertentu. Setiap titik mengandung pertanyaan kuis yang berbeda. Semua pertanyaan seputar pengetahuan survival itu wajib dijawab. Angka totalnya akan menjadi indikator apakah pengunjung bisa survive selama 72 jam pertama atau tidak pascagempa.
Berhubung minim pengalaman, saya hanya dapat nilai 60 dari total skor 100. ”Nggak apa-apa. Pengetahuan Anda sudah cukup untuk membantu Anda bertahan hidup selama 72 jam pertama kok. Yah, walaupun mepet banget lolosnya,” ujar Fumie menghibur.
