Di Sumatera Terdesak Sawit, di Enrekang Trauma Masa Lalu

Di Sumatera Terdesak Sawit, di Enrekang Trauma Masa Lalu
0 Komentar

Di Bulungan, Paox menemui masyarakat adat suku Dayak Punan. Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tertinggal dan hampir punah. Kini tinggal 200 kepala keluarga.

”Pada 1971, banyak orang Dayak Punan yang dipindah ke kota untuk dimanusiakan. Begitu otonomi daerah berlaku, mereka diusir masyarakat kota karena dianggap pendatang. Sementara itu, tanah tempat tinggal mereka sudah dikeruk habis,” jelas Paox.

Kondisi itu membuat sebagian suku Dayak Punan memilih tinggal menyebar di belantara Kalimantan Utara. Ketika ditemui saat itu, Paox jadi tahu bahwa suku Dayak Punan, terutama Dayak Punan Dulau, memiliki kemampuan tradisional merehabilitasi hutan. Selain itu, mereka memiliki keahlian berburu yang kuat. ”Postur mereka kecil seperti hobbit, senjata mereka pakai sumpit,” katanya.

Baca Juga:Tidak Perlu Demonstrasi, Ikuti Proses Hukum Kasus Penistaan AgamaBIAF Ajang Kompetisi Para Animator

Paox sempat mencicipi hasil buruan orang Dayak Punan Dulau. ”Magrib mereka keluar, jam 10 malam mereka sudah membawa dua babi, satu landak, satu kancil, dan serangkai ikan-ikan,” imbuhnya.

Untuk bisa mengakses masyarakat-masyarakat terpencil itu, Paox tidak bisa sendirian. Dia mendapat bantuan dari organisasi masyarakat seperti Sajogyo Institute (Sains) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Saat mengunjungi desa adat di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Paox juga mendapat pengalaman menarik karena dia mempelajari banyak tabu sosial.

”Ada daerah di sini yang melarang orang ngomong. Untuk potong rumput saja, harus potong ayam lebih dahulu. Ini cara mereka berkomunikasi dengan alam,” jelasnya.

Di Enrekang, Sulawesi Selatan, Paox menemui fakta adanya masyarakat adat yang mengalami trauma masa lalu. Karena itu, dia pun sulit mendapatkan kisah kebudayaan masa silam. Apalagi, masyarakat Enrekang tertutup terhadap orang asing. Mereka merasa trauma atas perlakuan penguasa yang kurang manusiawi kepada masyarakat adat Enrekang.

Selama mengunjungi masyarakat adat, Paox selalu menegaskan pentingnya menuliskan kembali budaya masing-masing masyarakat adat.

Selama ini, budaya itu hanya disampaikan secara lisan. Padahal, penguasaan secara lisan rawan mengalami distorsi informasi atau bahkan hilang menyusul punahnya suku tersebut. ”Di Sumbawa, misalnya, penutur bahasa asli kini tinggal lima orang,” ujarnya menggambarkan.

0 Komentar