Salah satu upaya mendorong semangat inovasi pelayanan ini, tambah Solihin, Pemprov Jabar setiap tahun juga memberi bantuan riset edukasi dan aplikasi. Ditujukan bagi PNS yang melakukan tugas akhir. Mulai dari sarjana sampai doktor. Disesuaikan dengan jenis riset yang dilakukan. Namun, sebelum mendapat bantuan, risetnya diuji terlebih dulu. Pengujinya direkrut dari perguruan tinggi. Sedangkan bagi riset aplikatif, hasilnya harus dapat digunakan sehari-hari masyarakat. Yang mengajukan bisa perorangan maupun kelompok. Nilai bantuan paling besar Rp 100 juta.
Sementara itu, Kepala Biro Organisasi Jabar Nanin Hayani Adam mengatakan, sebenarnya inovasi pelayanan yang dilakukan aparatur di Jabar tidak kalah bagus dengan daerah lain di Indonesia. Jumlahnya pun banyak. Bahkan, manfaatnya sudah bisa dirasakan langsung ke masyarakat, seperti Samsat Gendong. Sebuah layanan alternatif dari Dinas Pelayanan Pajak Jabar yang memudahkan masyarakat membayar pajak kendaraan. Selain itu, Bapusipda yang memiliki layanan perpustakaan bertaraf internasional. ’’Inovasi pelayanan Jabar tidak kalah baik dengan daerah lain,’’ terang dia.
Nanin menjelaskan, kompetisi inovasi tingkat Jawa Barat baru tahun 2016 diselenggarakan. OPD Provinsi Jabar maupun kabupaten kota, tahun sebelumnya pernah dan ada yang mengikuti kompetisi Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) yang diselenggarakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Namun, perlu diketahui bahwa kompetisi inovasi tingkat Provinsi Jabar ini salah satu tujuannya adalah lebih memacu pelaksanaan gerakan satu instansi satu inovasi, khususnya di Jawa Barat. Mendorong terciptanya inovasi pelayanan publik dalam rangka percepatan peningkatan pelayanan publik. (hen)

