Ceritakan dan Beri Nama Menarik

Ceritakan dan Beri Nama Menarik
Rohman Budianto
Direktur JPIP
0 Komentar

bandungekspres.co.id – SUPERVISOR The Jabar Ekspres Institute of Pro Otonomi (JIPO) Rohman Budianto mengatakan, inovasi lahir dari iklim demokratisasi yang telah berjalan. Artinya, memberi akses kepada seluruh masyarakat untuk dekat dengan pemimpinnya. Menimbulkan persamaan hak dan pemerintahan. Termasuk salah satu solusi keterbatasan anggaran. Sekaligus sebagai jalan pintas menuju kemajuan.

”Bapak dan ibu pimpinan OPD di Jabar sudah bagus sebetulnya. Tinggal kita yang mengevaluasi. Problem kita itu inovasi. Baik, tapi tidak bisa mengemas. Lalu, berkompetisi yang maju bersama,” jelas pria yang juga Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi ini JPIP ini.

Oleh karena itu, menurut pria akrab disapa Roy ini, masalah bagi para inovator adalah menceritakan. Idealnya, inovasinya baik, menceritaannya baik, logika karya di dalamnya juga baik. Dengan begitu, pesan sampai meski ruang penjelasan terbatas. ’’Menceritakan itu penting. Kalau mau menang. Kecuali kalau tidak mau menang ya sudah. Mari berendah hati untuk memenangkan tujuan kita. Agar, inovasi menimbulkan inspirasi yang tidak terduga,’’ ungkap dia, saat menjadi narasumber dalam rapat Tim Penilai Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Jabar 2016 di Ruang Malabar, Gedung Sate, Selasa lalu (8/11).

Baca Juga:Aher Dorong OPD Terus BerinovasiOPD dan Pemda Antusias Berkompetisi Inovasi Pelayanan Publik Jabar 2016

Menurut Roy, memberi nama menarik pada hasil inovasi juga penting agar programnya cukup dikenal. Sebagai pemikat awal, sebelum masyarakat masuk dan memastikan pelayanan itu hadir, serta dirasakan. Namun, semangat membuat nama bagus jangan sampai berlawanan dengan pesan pelayanannya. Selain itu, tim penilai perlu mengonfirmasi untuk mengidentifikasi proposal yang masuk inovasi atau bukan. Tahap berikutnya adalah, melindungi hasil inovasi dengan paying hukum dan mengapresiasinya. Tidak kalah penting adalah menyosiliasaikan setiap inovasi pelayanan publik kepada masyarakat.

’’Para inovator itu terkadang tidak membutuhkan sesuatu yang sifatnya terlalu materi. Imbalan materi kalau ada uang pembinaan bukan tujuan utama. Mengapresiasi dengan menghargai secara terbuka kepada masyarakat,’’ terang dia.

Roy menyampaikan, setelah melihat daftar peserta yang ikut kompetisi inovasi tingkat Provinsi Jabar 2016, banyak inovasi bagus. Meski, secara nasional kompetisi inovasi pelayanan publik kini semakin semarak. Sudah mengarah pada social entrepreneurship. Setiap tahun, 2.500 peserta inovasi menjadi peserta Sinovik yang digelar Kemenpan dan RB. ’’Tidak perlu khawatir Jabar. Tak ada kata terlambat untuk berinovasi memberi pelayanan kepada masyarakat,’’ kata dia.

0 Komentar