Setelah menyelesaikan program PTT, Agus bekerja di sebuah klinik kesehatan di Ambon yang dikelola seorang suster. Ada pengalaman batin yang mengetuk nurani Agus kala itu. Dia melihat ketulusan perempuan tersebut dalam melayani masyarakat. Sebaliknya, sebelum bertemu suster itu, dia merasa selalu mengeluh saat memberikan pelayanan. ”Saat bertemu suster itu, saya jadi malu karena sering mengeluh,” ucapnya.
Dari situlah pengabdian sesungguhnya baru dia mulai. Agus kemudian memutuskan untuk membentuk Sailing Medical Service (SMS) di RSUD Telehu. ”Saya pernah beberapa bulan mencoba praktik di rumah sakit. Tapi, hati saya selalu berontak untuk berlayar ke pelosok,” ungkapnya.
Demi pengabdiannya itu, Agus rela berpisah dari keluarga. Dia tinggal di Ambon (sampai saat ini), sedangkan istri dan tiga anaknya tetap Malang, Jawa Timur, kota kelahirannya. Untung, istri dan anak-anaknya mendukung tugas Agus. ”Sesekali saja anak terkecil saya protes kenapa saya sering pergi-pergi,” ujarnya, lantas tersenyum.
Baca Juga:Targetkan LKHPN 2 MingguDiguncang Gempa 4,2 SR, Warga Luka-luka
Agus tidak sendiri saat bertugas melayani pasien. Dia selalu bersama Tim SMS yang berada di bawah naungan RSUD Tulehu. Setiap berlayar, tim yang dibawa Agus tidak tentu. Kadang lima orang. Paling banyak sembilan orang. Mereka terdiri atas dokter dan perawat.
”Kadang ada spesialis mata, kami ajak. Kami sering melakukan operasi katarak di pulau-pulau kecil itu,” jelas dokter 48 tahun tersebut.
Selain operasi katarak, Tim SMS kerap menangani kasus hernia. ”Tindakan operasi yang kami lakukan biasanya yang tidak berisiko pendarahan banyak,” tuturnya.
Setiap akan melakukan pembedahan, Tim SMS selalu berkoordinasi dengan petugas medis di puskesmas setempat. Setelah semua disiapkan, tindakan medis pun dilakukan di salah satu ruangan di puskesmas yang disulap menjadi ruang bedah. Tentu saja Tim SMS memperhatikan standar yang harus dipenuhi sebuah ruang operasi. Paling tidak, higienitasnya terjamin.
Agus memiliki cerita unik selama 8 tahun bertugas melayani pasien di pulau-pulau kecil itu. Dalam sebuah pelayarannya, dia bertemu seorang pria paro baya yang menderita hernia sejak kecil. Pria tersebut sudah menikah, namun tidak harmonis lantaran penyakit di bagian alat produksi kelaki-lakiannya itu. Penisnya tidak bisa ereksi. Sang istri pun meminta cerai.
