Bukan hanya itu, Tri yang memiliki jiwa entrepreneurship saat mahasiswa sudah bisa mendirikan usaha di bidang agribisnis peternakan pada 2006. Usaha yang dijalankan di Sukoharjo, Jawa Tengah, itu pernah meraup omzet Rp 3 miliar setahun. Berkat usahanya (CV Tri Agri Aurum Multifarm) yang moncer itu, dia dinobatkan sebagai pemenang Wira Usaha Mandiri (WMM) 2010 untuk kategori industri dan jasa. Tri pun masuk jajaran 100 alumnus terbaik UNS.
Namun, usahanya itu kini mulai surut. Meski demikian, Tri mengaku banyak belajar dan tidak lantas patah arang.
Bahkan, dia kemudian merambah bisnis yang lain. Yakni, jasa layanan ojek khusus para penyandang disabilitas seperti dirinya. Sebelum itu, Tri dan kawan-kawannya sesama penyandang cacat sempat tertarik untuk melamar pekerjaan di perusahaan ojek online yang sedang naik pamor tersebut. Namun, lamaran mereka ditolak dengan berbagai alasan.
Baca Juga:Tommy Soeharto Ikut Tax AmnestyBalap Sepeda Road Belum Ada Koordinasi dengan Pengelola
Dari situlah, Tri kembali mendapatkan inspirasi untuk mendirikan perusahaan jasa layanan ojek difabel yang kemudian diberi nama Difa City Tour and Transport. Tapi, kali ini dia pindah ke Jogja yang secara potensi lebih menjanjikan.
Menurut Tri, di Jogja saat ini terdapat 33 ribu penyandang disabilitas yang membutuhkan jasa transportasi khusus. Selama ini para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, tunadaksa, maupun tunarungu, sering kesulitan saat bepergian seperti orang normal pada umumnya. ”Saya bisa bilang begini karena saya sendiri mengalami,” katanya.
Akhirnya, Juli tahun lalu Tri bersama Puji Santosa, rekannya yang juga penyandang disabilitas, sepakat mendirikan usaha jasa layanan ojek khusus untuk penyandang cacat tersebut. Dibantu komunitas gerakan Sedekah Rombongan, Tri dan Puji mengawali bisnisnya dengan tiga motor beroda tiga yang dimodifikasi khusus untuk penyandang disabilitas. Begitu tiga ojek khusus itu siap, mereka merekrut driver dari kalangan penyandang disabilitas.
”Kalau jaringan saya kan kalangan para wirausahawan, nah Mas Puji inilah yang memiliki jaringan kuat di kalangan aktivis kaum difabel. Jadi, dari dialah saya bisa bertemu dengan teman-teman difabel yang pintar jadi driver motor roda tiga,” ujarnya.
Setelah merekrut driver, Tri dan Puji gencar melakukan sosialisasi ke sejumlah perkumpulan difabel dan masyarakat umum. Untuk perkenalan dan promo, pada enam bulan pertama, Juli-Desember 2015, ongkos yang diterima driver masih seikhlasnya. Buntutnya, selain penumpang difabel, ojek roda tiga itu diminati masyarakat umum dan para turis asing.
