bandungekspres.co.id, BOJONGSOANG – Desa Bojongsoang menggelar Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat Tangguh Banjir dan Pencanangan Bulan Dana PMI Kabupaten Bandung, dengan tema ’Desa Bojongsoang Spektakuler’ di Kantor Desa Bojongsoang, Kabupaten Bandung, kemarin (8/9). Acara tersebut juga sekaligus bersamaan dengan digelarnya pelatihan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), mengingat Kabupaten Bandung adalah salah satu daerah rawan bencana.
Istri Bupati Kabupaten Bandung Nia Kurnia yang sekaligus sebagai sebagai Ketua Bulan Dana Bakti Sosial PMI dan seluruh muspika Kecamata Bojongsoang, serta dihadiri juga oleh siswa TK dan SD se-Kecamatan Bojongsoang. ”Bulan Dana Bakti Sosial ini diselenggarakan mulai Bulan September ini hingga satu tahun ke depan. Dana dihasilkan melalui sebar kupon pada acara-acara, minimarket, institusi pemerintah dan masyarakat, juga masuk ke tingkat pelajar. Serta, nominal kupon yang disebarkan bernilai Rp 2 ribu sampai Rp 10 ribu.
”Harapan saya bisa mencapai target satu tahun ini. Semoga acara ini bisa menginspirasi untuk berbuat mulia sesuai nilai-nilai kemasusiaan,” kata Nia di sela-sela kegiatan.
Baca Juga:Perkuat Kantor Urusan Internasional, STIE Ekuitas Jajaki Kejasama dengan Univesitas AsingAntisipasi Gizi Buruk, Emil Perintahkan Dinkes Tiru Omaba
Nia pun berharap dengan berjalannya acara ini, kepada seluruh masyarakat untuk menyisihkan dana kemanusiaan bersama PMI, dan bisa turut berkontribusi dalam aksi sosial ini. ”Terima kasih bagi yang sudah berperan aktif. Mari bahu-membahu untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan yang ada melaui Bulan Dana Bakti Sosial PMI ini,” ucapnya.
Sementara itu, Kades Bojongsoang, Acep Syahrul Mulyaman mengatakan, dilaksanakannya kegiatan ini dalam rangka Bojongsoang Spektakuler agar masyarakat diimbangi dengan pengetahuan desa tangguh bencana yang merupakan program nasional.
”Hal ini dilaksanakan, karena masyarakat yang merupakan penerima dampak langsung dari bencana, dan sekaligus sebagai pelaku pertama dan langsung yang akan merespon bencana disekitarnya,” katanya.
Maka, lanjut Acep, masyarakat perlu dibekali dalam konteks pemberdayaan agar menjadi Tangguh, bukan hanya siap menghadapi bencana tapi menjadi Tangguh, diantaranya bisa dengan cepat memulihkan diri secara mandiri.
”Ya, peran masyarakat dalam mewujudkan desa tangguh secara mandiri sangat dibutuhkan, sebagai kepanjangan tangan dari BPBD dalam upaya meminimalkan dampak bencana. Karena, personel BPBD yang terbatas itu akan keteteran jika tidak dibantu masyarakat (yang terlatih) dalam penanggulangan bencana,” ungkapnya.
