bandungekspres.co.id – SEGALA hal dilakukan masyarakat menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Seperti yang dilakukan warga RW 11 Kelurahan Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung dengan menggelar tradisi sepakbola api. Tradisi ini digelar di depan masjid setempat yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa.
”Filosofinya, bola api ibaratnya hawa nafsu manusia. Berarti mengendalikan bola api sama dengan mengendalikan hawa nafsu,” kata Kepala Desa Cibiru Hilir Yunus M. Hikam didampingi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Safinatussalam Harun Harahap, di sela kegiatan, Sabtu (4/6) malam.
Untuk mengikuti permainan tersebut, ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan para pemain. Yaitu membasuh kaki mereka dengan air yang telah dibacakan doa. Ritual ini dilakukan agar kaki pemain bersangkutan tidak merasa panas dan terluka saat bermain bola api.
Baca Juga:Motivasi David Laly MeningkatRachmad Belajar Mandiri
Selain itu, kata Yunus, permainan bola api itu juga untuk menjalin tali keakraban antarwarga. Dia menyebut jika permainan bola itu tidak mengandung unsur sihir atau ilmu hitam. Para warga bermain bola api secara alami seperti pemain sepak bola pada umumnya.
”Sebelum Ramadan warga harus saling memaafkan sebelum menjelang Ramadan agar puasanya berjalan lancar. Tida ada lagi rasa saling dengki atau dendam,” ujar Yunus.
Bola terbuat dari satu butir kelapa utuh yang direndam dalam minyak tanah selama dua minggu. Sesudahnya bola yang sudah direndam ini dibakar, dan langsung dilempar ke tengah lapangan.
Layaknya permainan sepakbola umumnya, permainan bola api ini menjadi rebutan dua tim yang terdiri dari lima orang, masing-masing tim berusaha merebut bola dari kaki lawan dan menendangnya ke arah gawang lawan. Meski bola yang digunakan menyala api panas, nampak tak ada rasa sakit pada kaki para pemain, meski ditendang secara telanjang kaki.
”Permainan ini sudah sering dilakukan sejak dulu, biasanya dilaksanakan sehari sebelum Ramadan,” ujar Yunus.
Yunus mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi ajang silaturahmi serta menjalin kebersamaan masyarakat di bulan puasa. (vil/fik)
