Seperti tak dihiraukannya ruam-ruam merah di leher seorang bayi laki-laki, tak dihiraukannya juga –maaf– kotoran manusia di atas kasur itu. Sampai tinja tersebut mengering.
Di salah satu kamar di lantai dua, relawan tersebut juga melihat seorang bocah perempuan buang air besar. Kotoran itu dia tinggalkan begitu saja di lantai. Bocah tersebut kemudian kembali bermain dengan teman-teman seusianya. Mereka semua yang bermain di kamar itu seakan tak terusik dengan kotoran itu.
Selama berada di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa, setiap hari pada pukul 08.00 anak-anak sudah mandi. Mereka mengenakan pakaian seragam. Menenteng tas. Lalu diantar dengan ”bus sekolah”.
Baca Juga:Berhasil karena Sasisabot, Sasisata, Sasisacir dan PubertasSiswa Harus Jalan Kaki 7 Kilometer
Tapi, yang dimaksud dengan bangunan sekolah anak-anak Panti Asuhan Rizki Khairunnisa itu bukanlah sebuah gedung dengan banyak ruang kelas. Melainkan sebuah masjid. TPA Rizki Khairunnisa, begitu tulisan yang tertera di sana.
Anak-anak tersebut merasa bahwa sekolah itu mengaji. Bukannya duduk di kelas dan belajar membaca-menulis. Ataupun berhitung. Karena itu, ketika sampai di LKSA Permate, anak-anak yang seharusnya sudah duduk di bangku SD tersebut belum bisa apa-apa.
”Saya tanya sudah kelas berapa, mereka jawabnya iqra berapa. Mereka mengira mengaji itu sekolah,” terang Kepala LKSA Permate Suharmanto.
Suharmanto akhirnya mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anak tersebut. Dia memiliki sebuah yayasan pendidikan Islam terpadu. Dia memasukkan tujuh di antara sebelas anak titipan itu ke SD yang bernama Insan Harapan tersebut. Mereka –As, Ar, Ha, Ma, Ok, Fa, dan Da– duduk di kelas I.
”Supaya mereka mengenal juga baca-tulis dan berhitung. Sebab, usia mereka sudah besar-besar,” tuturnya lagi.
Sementara itu, empat anak lain belum bersekolah. Sebab, mereka masih di bawah umur. Di antara tujuh anak yang bersekolah tersebut, kini hanya tiga yang masih tersisa di sana. Empat lainnya sudah dipindahkan ke Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Bunga Rampai.
Nah, di antara tiga anak yang masih bersekolah itu, Ok menunjukkan perkembangan yang paling signifikan. Dia sudah bisa membaca dan menulis. Nilai-nilainya juga menggembirakan. ”Anak ini memang cerdas. Cepat nangkapnya,” kata Siti Nurhasanah.
