KNKT Paparkan Hasil Investigasi QZ8501

Kondisi tersebut, lanjut dia, pun sempat dinetralisirkan secara manual oleh pilot. Pesawat pun kembali ke kemiringan sembilan derajat ke kiri. Namun, pesawat kembali miring ke kiri beberapa detik kemudian hingga mencapai 53 derajat. Untuk mencapai itu, kopilot menggunakan manuver yang mirip secara manual.

”Namun, entah kenapa manuver tersebut juga membuat elevasi moncong pesawat terus ke atas. Di sinilah kami menemukan semacam misinterpretasi. Pilot memerintahkan kepada kopilot dengan instruksi pull down,” ujarnya.

Mardjono menilai bahwa instruksi tersebut cukup ambigu. Mungkin maksud dari pilot adalah agar moncong pesawat diturunkan. Namun, pull sendiri artinya menarik. Sehingga, KNKT mencatat ada tindakan menarik sidestick dari kopilot yang menyebabkan arah moncong justru makin tinggi.

”Memang, belum ada call out (instruksi lisan) yang baku untuk keadaan seperti ini. Hal ini sudah kami masukkan ke rekomendasi agar dibakukan. Sehingga tidak ada misinterpretasi seperti ini,” terangnya.

Sementara itu, Plt Kepala Sub Komunikasi Investigasi Kecelakaan Transportasi Penerbangan Nurcahyo Utomo mengatakan, peristiwa tersebut merupakan serangkaian rentetan penyebab. Jika ditarik lebih jauh, faktor perawatan pesawat dari maskapai Air Asia juga turut berperan. Dalam investigasi tersebut, KNKT menemukan bahwa RTLU pada armada tersebut sudah sering dilaporkan menderita gangguan.

”Tahun ini, sudah ada 23 gangguan yang terjadi pada RTLU terhadap pesawat tersebut. Frekuensinya pun semakin meningkat seiring bulan berjalan. Dari sebulan sekali gangguan hingga Desember yang mencatat sembilan gangguan,” ungkapnya.

Memang, dia menegaskan, retakan solder tersebut tak mengganggu kinerja pesawat secara kesuluruhan. Jika saja alarm tersebut dibiarkan, penerbangan bisa dilakukan seperti biasa. Namun, alarm tersebut memang bisa mengganggu para awak pesawat.

”Bayangkan, sudah tiga kali ditangani sesuai prosedur tetap saja muncul lagi. Karena itu mungkin mereka mencoba menggunakan cara lain. Asumsi kami, pilot mencoba solusi yang dilihat dari tim teknisi saat pesawat di Surabaya. Menurut investigasi, pilot memang sempat melihat pesawat diperbaiki teknisi pada 25 Desember dengan gejala yang sama. Saat itu, teknisi memang mencabut circuit breaker FAC,” jelasnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan