Daniel juga diberi kesempatan menjelaskan metodenya kepada para jurnalis dan medical representative dari berbagai negara selama sekitar 30 menit di ruangan tersendiri. Kali ini, dia didampingi Prof Dr Dwight E. Heron dari AS dan CEO Gleneagles Hospital Dr Vincent Chia.
Menurut Daniel, pengobatan tumor tidak hanya butuh keakuratan dan konsistensi. Dia menjelaskan, akurat adalah tepat sasaran. Namun, kata dia, akurat belum tentu konsisten. Sebaliknya, konsisten adalah terus-menerus, tetapi belum tentu tepat sasaran.
Karena itu, kata dia, yang diperlukan adalah metode pengobatan yang presisi. Radiasi tubuh secara presisi itu tidak ditembakkan ke seluruh tubuh.
Baca Juga:Cieunteung Kembali TerendamVonis Ade Lebih Ringan dari Tuntutan
”Ibaratnya kita menggunakan senapan mesin otomatis, sasaran akan mati. Namun, kerusakan dan kesakitan yang ditimbulkan akan luar biasa. Berbeda dengan radiasi yang presisi, yang ditembak itu dijamin tepat sasaran langsung ke tumornya saja sehingga mereduksi sakit dan kerusakan tubuh,” jelasnya.
Agar ”tembakan” presisi, Daniel dan timnya bekerja keras di ruang Asian American Radiation Oncology, Gleneagles Hospital. Ada dua ruangan untuk radiasi. Yang satu berpintu pink dan satu lagi berpintu kuning. Tampaknya, ruangan berpintu pink untuk pasien perempuan dan pintu kuning untuk pasien laki-laki.
Di dalam ruangan itu, mereka menggunakan metode stereotactic body radiation therapy (SBRT) untuk menjinakkan bermacam tumor. Sebelum disinari, setiap pasien akan memakai semacam topeng plastik berlubang-lubang persegi. Dengan bantuan alat radiasi tersebut, posisi tumor akan diketahui secara presisi. Selanjutnya, tindakan medis akan lebih mudah dilakukan. Apakah nanti diputuskan untuk tindakan terapi radiasi, operasi pengangkatan, dan seterusnya, semua akan jauh lebih mudah dan tepat. (*/c5/end/rie)
