oleh

Bantu Pendidikan Anak Jalanan

SUMUR BANDUNG – Komunitas Save Street Child bergerakan di bidang pendidikan anak, khususnya kepedulian terhadap anak jalanan dan marjinal.

Intan Widi S/ BANDUNG EKSPRES  Save Street Child menjadi salah satu komunitas yang mengikuti acara City Watch di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) JAlan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Sabtu (4/7/2015). Forum komunitas Rakapare Kota Bandung sebagai pengagas acara tersebut. Acara ini diikuti oleh 18 komunitas yang ada di kota Bandung.
Intan Widi S/ BANDUNG EKSPRES
Save Street Child menjadi salah satu komunitas yang mengikuti acara City Watch di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) JAlan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Sabtu (4/7/2015). Forum komunitas Rakapare Kota Bandung sebagai pengagas acara tersebut. Acara ini diikuti oleh 18 komunitas yang ada di kota Bandung.

Save Street Child Bandung didirikan di Buah Batu pada 15 Juni 2011 oleh Reza dan Ganda. Berawal dari penelitan, keduanya akhirnya membentuk komunitas bernama Save Street Child Bandung (SSCB). Kelsi, humas SSCB mengatakan, SSCB merupakan komunitas independen yang memiliki program khusus bagi anak dalam kaum marjinal.

Salah satu kegiatan rutinnya adalah kegiatan belajar mengajar yang berlokasi di dua tempat, yakni di Taman Buah Batu dan pertigaan Sultan Agung. ’’Di Taman Buah Batu sendiri yang mengikuti kegiatan belajar mengajar sekitar 40 anak, tetapi banyak kondisi tertentu sehingga terkadang yang datang hanya sekitar lima sampai 20 anak,’’ ujar Kelsi kepada Bandung Ekspres belum lama ini.

Sementara di pertigaan Sultan Agung merupakan gabungan dari dua lokasi, yang sebelumnya bertempat di Dago Cikapayang. Kelsi menambahkan, dibangunya SSCB atas dasar kepedulian kepada anak-anak jalanan yang sehingga terbangun keinginan bersama untuk membantu meringankan beban anak-anak jalanan. ’’Kita lihat adik-adik kita di jalan. Kita menganggap adik-adik ini adik-adik kita, kita nggak mau melihat adik-adik kita di jalan,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, anak-anak tersebut harus mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan yang baik dan mendapatkan kasih sayang dari orang yang peduli terhadap mereka.

Selain sebagai komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, komunitas ini juga bergerak dalam hal membantu anak yang kurang biaya untuk sekolah dan membeli peralatan sekolah dari hasil uang donasi. ’’Setiap minggunya selalu ada uang iuran untuk kegiatan-kegiatan tertentu sebesar lima ribu per orang dan, juga ada donasi yang tidak tetap. Misalkan bagi orang-orang yang ingin mendonasikan sebagian uangnya untuk anak-anak jalanan,’’ paparnya.

Untuk donasi digunakan untuk menyekolahkan anak, dan penyediaan snack saat kegiatan belajar mengajar. Kelsi mengatakan, untuk kegiatan tahun ini lebih ke kegiatan rutinan. Dan pada awal 2014 diadakan kegiatan minggu keluarga, jumat bersih dan kegiatan belajar mengajar Bubat.

Dia mengatakan, SSCB sangat tidak ingin melihat anak-anak berakhir di jalanan. Salah satunya dengan membantu mencari lapangan pekerjan bagi orang tua dan mendapatkan gaji yang layak sehingga bisa menghidupi keluarganya. ’’Kita nggak pengen adik-adik di jalanan,’’ ungkapnya. (mgu-ger/far)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

1 komentar

Baca Juga