oleh

Kawasan Pendidikan Diserbu Iklan Rokok

[tie_list type=”minus”]Hasil Riset di 64 Sekolah Kota Bandung[/tie_list]

BANDUNG WETAN – Banyaknya iklan rokok yang ada di sekitar lingkungan sekolah membuat masyarakat resah. Terutama, kalangan guru. Atas latar belakang itulah mahasiswa Fikom Unisba bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) dan Bebas Rokok Bandung (BRB) untuk melakukan riset tentang ini. Riset tersebut dilakukan di lima kota, yaitu Jakarta, Bandung, Makassar, Mataram, dan Padang.

Diskusi Penyebaran Rokok
FAJRI ACHMAD NF/BANDUNG EKSPRES
PEDULI GENERASI MUDA: Tim peneliti wilayah Bandung Dr. Rita Gani memaparkan temuan terkait penyebab penyebaran rokok terhadap kalangan anak sekolah dalam diskusi ‘Propaganda dan Promosi Iklan Rokok di Kawasan Sekolah’ di Warung Misbar, Jalan R.E. Martadinata, kemarin (5/7).

Hasil riset dari lima kota tersebut dipublikasikan dalam konferensi pers Serangan Iklan Rokok di Sekitar Sekolah di Warung Misbar, Jalan Riau, Kota Bandung, kemarin (5/7). Dari hasil riset yang dilakukan di 360 sekolah di 5 kota tersebut, diketahui bahwa industri rokok secara intensif menempatkan iklan rokok di dekat sekolah.

’’Di Bandung, kita monitoring 64 sekolah dari 5 wilayah Bandung. Hasilnya cukup mencemaskan karena nyaris semua sekolah pasti ada iklan rokoknya, baik itu tingkat SMP atau SMA bahkan di lingkungan SD pun ada,’’’ ujar Santi Indra Astusi, Koordinator Monitoring wilayah Bandung.

Santi juga mengungkapkan bahwa dalam radius 100 meter dari wilayah sekolah bahkan terjadi ajang ‘perang merek’ bagi beberapa produk – produk rokok. Area tersebut menjadi tempat yang stategis untuk promosi dan menjual rokok. Permaianan marketing menjadi point penting dalam fenomena tersebut.

’’Hasil ini membuktikan bahwa industri rokok itu bersikap agresif dalam menempatkan iklan rokok di tempat yang dilewati oleh anak-anak sekolah setiap harinya, juga di tempat yang sering mereka jadikan tempat berkumpul,’’ papar Rita Gani selaku anggota tim monitoring.

Menurut Rita, ketika sekolah telah berupaya menegakan aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), lingkungannya tidak didukung. Akhirnya, pelajar malah diterpa oleh serbuan iklan dan promosi rokok yang sulit dikontrol oleh pihak sekolah sendiri.

Dalam kenyataanya, industri rokok secara berkala kehilangan pelanggannya, karena berhenti merokok atau meninggal akibat rokok. Hal tersebut mendorong industri rokok untuk mencari perokok baru atau perokok pengganti. Oleh karena itu, industri rokok membangun strategi kampanye dalam memasarkan produknya kepada masyarakat tertentu.

Dari hasil riset di Bandung sendiri ditemukan beberapa fenomena. Seperti, hampir keseluruhan iklan ditemukan di 94 persen sekolah, display rokok secara khusus ada di toko atau warung sekitar sekolah. Sehingga, terlihat jelas dan mudah untuk dijangkau oleh konsumen sekitar 59 persen.

’’Maka dari itu, kami mendesak pemerintah di semua level nasional, provinsi, kota, ataupun kabupaten untuk mengupayakan dan membuat peraturan pelanggaran total iklan, promosi, dan sponsor rokok di seluruh wilayah di Indonesia,’’ ujar Lisda Sundari dari Lentera Anak Indonesia.

Lisda berharap, melalui kegiatan tersebut, pemerintah bisa langsung bergerak. Karena hal ini dilakukan, sambungnya, demi generasi muda yang lebih baik. (mgu-tan/tam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga