oleh

Besok, Bosscha Pantau Hilal

[tie_list type=”minus”]Sediakan Tiga Teleskop Portabel[/tie_list]

LEMBANG – Observatorium Bosscha akan melakukan pengamatan bulan atau hilal untuk menentukan awal Ramadan pada Rabu (17/6) mendatang. Padahal, pemerintah melalui Kementrian Agama akan menggelar sidang isbat hari ini (16/6).

Pengamatan yang dilakukan Bosscha akan dimulai pada pagi sampai sore hari. Pihak Bosscha sendiri telah menyiapkan tiga buah teleskop yang digunakan oleh tiga orang. Teleskop yang digunakan adalah teleskop portable yang dilengkapi kamera dan filter inframerah. Ketiga teleskop tersebut merupakan teleskop yang biasa digunakan pada pengamatan pada umumnya.

”Orang-orang yang berada di dalam sidang isbat sudah tahu jika hilal datang beberapa saat sebelum berakhir bulan dalam penanggalan Hijriah,” ujar salah satu pengurus Observatorium Bosscha Evan Irawan Akbar kepada Bandung Ekspres kemarin (15/06).

Baca Juga:  Sempat Tertunda Pandemi, Parrafin Wax Kembali Diekspor

Observatorium Bosscha sendiri sudah diminta untuk membuat perhitungan posisi bulan sejak tahun 1980. Bahkan sejak tahun 2007, mulai dilakukan pengamatan yang ditayangkan lewat streaming internet yang bekerja sama dengan Telkom, Kemenkominfo dan pihak lainnya. ”Untuk alamat streaming tersebut bisa dilihat di website Bosscha.” ujarnya.

Menurut diua, live streaming memiliki tujuan untuk pembelajaran kepada masyarakat seperti apa wujud hilal tersebut. Serta bagaimana cara pengamatannya. Tujuan lainnya yaitu mendorong pengamat hilal agar menyertakan bukti berupa foto. Hal itu dilakukan untuk memperkuat kesaksian dalam melihat hilal.

Baca Juga:  Massa Tuntut Hengky Kurniawan 'Bersih-bersih' Pemda KBB

”Untuk tahun ini, live streaming sudah tidak ada lagi. Akan tetapi jika begitu bulan terlihat akan langsung diunggah ke website dan akun sosial media lainnya milik Bosacha,” ucapnya.

Pada tahun sebelumnya, pemerintah masih ikut serta melihat hilal di Observatorium Boscha. Hal tersebut dilakukan, sembari mengajak dan mengajari lembaga/masyarakat yang ada di daerah. Di tempat yang berbeda Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) , Din Syamsudin menuturkan, kemungkinan besar penentuan hari pertama bulan Ramadan akan sama. Baik itu NU, Muhammadyah dan Persis.

Baca Juga:  Siaga Bencana, Pemkot Jakut Gerakkan 18 KSB

”Kesamaan penentuan 1 Ramadan 1436 Hijriah ini bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti ilmu pengetahuan dan cara pandang yang sama dengan teknik perhitungan seperti itu setiap awal Ramadan dan satu syawal bisa ditemukan untuk 20 tahun kedepan,” jelasnya.

Tahun ini sama, yaitu akan dimulai pada 18 Juni karena menggunakan pendekatan hisab sudah diprediksi. Begitu pun jika melakukan pendekatan dengan menggunakan rukyat. ”Oleh karena itu, Insyaallah akan sama dan menurut perhitungan sampai pada 2023 akan seperti itu. Lalu, Lebaran juga sama akan jatuh pada tanggal 17 Juli,” tandas Din. (mg5/fik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga