95

Berawal dari Tiga Buku kini Mencapai Ribuan

Dirikan Galeri Bacaan Bersama Sang Istri (Bagian 1)

JADI PENCETUS: Keuletannya Yayat, mendirikan perpustakaan untuk membudayakan gemar membaca bagi masyarakat desa.

Sarana serba terbatasan bagi Mang Yayat bukanlah menjadi kendala. Berawal dari tiga buah buku yang dia beli di jalan Dewi Sartika kebiasaan membaca dilakukan setiap harinya. Bahkan sampai pada akhirnya dia membuat galeri bacaan di teras rumahnya.

Elin Salma Alfiyani, Kabupaten Bandung

Ditemui di kediamnya Yayat bercerita bahwa Merintis taman bacaan dilatar belakangi kekecewaan karena putus sekolah. Namun, keadaan tersbut bukanlah menjadikannya putus asa.

Dan sejak saat itu dia memutuskan bahwa menjadi pintar tidak harus melalui pendidikan formal.

Dulu, untuk membiayai sekolah dari kelas satu hingga kelas tiga, dulu Yayat berjualan gorengan. Setiap pukul 05.00 pagi ia pergi ke pemilik gorengan untuk dijual di sekolah.

Namun, usahanya itu kerap menjadi bahan olokan teman-temannya. Bahkan pernah ada yang menumpahkan gorengan dagangan.

Atas kejadian itu, dia lebih sering menyendiri dengan menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah untuk membaca buku.

’’Ya, karena biaya sekolah mahal Ibu sering jual baju, jual piring untuk tambah bayaran sekolah,’’ucap Yayat sambil menerawang ke masa lalunya.

Hidup serba kekurangan sudah dirasakan sejak masa usia sekolah. Bahkan, untuk makanpun pernah mengambil dari healeran, beras bakatul, nasi sisa pembuangan orang lain.

Perjalanan merintis perpustakaan dimulai sejak 1997, berkat keuletannya, dia bersama sang istri mengumpulkan buku satu persatu. Bahkan bantuan berupa buku-buku didapakan dari masyarakat yang bersimpati kepada kerja kerasnya.

Ketika menikah, istri tercintanya memberikan 3 buah buku dan memiliki 6 buku. Dari enam buku tersebut menjadi modal untuk rintis taman baca, mulai di pinjamkan ke orang lain.

Untuk membantu suami istrinya rela ikut membantu sebagai penjual rongsokan. Bahkan, sering menemukan buku yang masih layak pakai untuk menambah koleksi buku-bukunya.

Selain itu, pekerjaan mang Yayat pada saat itu sebagai recycle kertas. Dari gajinya ia sisipkan 2.5 persen untuk pembelian buku. Sehingga, koleksi bukunya semakin banyak, ada juga yang berdonasi dari kerabatnya untuk menyumbang buku.

’’Dari tahun 1997 hingga 2012 saya bersama istri melakukan pengadaan buku sendiri,”kata Yayat.

Dari koleksi bukunya ini akhirnya diputuskan mengelola perpustakaan desa meskipun belum ada bantuan dari pemerintah. Namun, sampai pada akhirnya pemerintah mengundangnya.

Perjalanannya dalam merintis taman baca tidaklah mudah, banyak respon negatif dari masyarakat kampung yang mendukung program literasinya, hinaan, dan bahkan dianggap orang yang kurang kerjaan.

Kini berkat jerih payahnya tersebut telah berbuah manis, pelopor literasi desa ini berhasil menjaring masyarakat untuk meningkatkan minat bacanya dengan mendirikan Taman Baca Sehati yang bertempat di Kampung Pasir Huni RT 05 RW 06 Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung.

Bukan itu saja, di taman bacaannya tersebut Yayat memiliki program yang dihasilkan dari riset yang dia lakukan terhadap masyarakat desa. Bahkan, hingga saat ini banyak program program yang dia garap untuk warga desa.

Saat ini bahan bacaan atau buku sudah mencapai 7000 buku dari bantuan berbagai pihak, donatur dan pemerintah. Terdiri dari sastra, keagamaan, hukum, lifeskill, ensiklopedi wayang dan ensiklopedi lainnya.

Beberapa penghargaan juga diraih dari tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Beasiswa juga ia raih dari kementrian pendidikan sebagai apresiasi pendidikan untuk menceritakan perjalanan rintisnya, bersama 100 penulis taman bacaan dan PKBM. (yan).

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.