UKL-UPL Rumah Deret Disoal

39
ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES
 MURAL PROTES: Sejumlah warga membuat mural di RW 11 Kelurahan tamansari, Kota Bandung.

BANDUNG – Pembangunan rumah deret kembali begejolak. Itu setelah pengembang memulai pembagunan Selasa (5/3). Warga RW 11 kelurahan Taman Sari tergabung dalam Aliansi Rakyat Anti Penggusuran didampinggi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mendesak untuk menghentikan proses pembangunan.

Advokat LBH Kota Bandung Hardiyansyah, beralasan proyek pembagunan rumah deret illegal karena belum mengantongi izin lingkungan dan Amdal. Dia bahkan menyebutkan, pihak pemkot Bandung telah melanggar Pasal 36 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam pasal itu, kata Hardiyansyah menyatakan setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan.

”Menurut Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlimdungan dan Pengelolaan lingkungan hidup dalam Pasal 37. Tanpa adanya Amdal dan lzln Lingkungan, penyelengara pembangunan terancam dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama tiga tahun dan denda paling sedikit Rp 1 Miliar dan  paling banyak Rp 3 Miliar,” ucapnya.

Baca Juga:  Telkom University Berikan Beasiswa

Menurutnya lemahnya pengawasan hukum terhadap pembangunan rumah deret.  Sehingga pemerintah kota Bandung leluasa meneruskan pembangynan ini. ”Kami menuntut aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan dan menghentikam aktivitas apapun di proyek rumah deret,” ujarnya.

Ditempat berbeda penjabat wali kota Bandung Muhamad Solihin meyebutkan, setiap pembangunan yang dilaksanakan pemerintan tidak untuk menyengsarakan rakyatnya. Pasti ingin mensejahterakan, termasuk pembangunan rumah deret Tamansari.

”Saya lihat ini sebagai dari dinamika pembangunan ke arah yag lebih baik. Mungkin kalau misalnya ada kekurangan komunikasi saya lihat. Karena sebagian masyarakat di sana mendukung pembangunan ini. Mungkin dalam pelaksanaan nanti kita akan juga mempertemukan lebih intensif bahwa saya khawatir pembongkaran bangunan ini ada yang nyerempet sedikit ke bangunan masyarakat yang kurang setuju,” terangnya saat ditemui di Gedung DPRD kota Bandung.

Baca Juga:  RSUD Al-Ihsan Harus Naik Kelas

Dia meyakini, sebenarnya masyarakat kota Bandung pasti ingin memiliki rumah tinggal yang layak. Dan itu juga keinginan kita semua termasuk pemerintah Kota Bandung. “Kami merencanakan pembanguan rumah deret taman sari karena kami ingin disana itu tertata dengan baik. Apalagi lahannya kan milik Pemkot Bandung. Jadi alangkah baik menjadi perumahan yang sehat yang nyaman yang layak ditinggali masyarakat Kota Bandung, tidak hanya indah tetapi juga sehat,” jelasnya.

Adanya berita terkait bentrok antar warga dan pengembang, Solihin menilai hal tersebut wajar. Karena ada masyarakat yang ingin rumahnya segera dibangun. Sementara di lain sisi ada yang tidak setuju.  “Yang satu ingin segera menghuni bangunan yang disediakan pemerkntah sementara ada juga yang kurang berkenan sampai saat ini,” jelasnya.

Baca Juga:  Siapkan Strategi Terbuka, Dedi Klaim Akan Tetap Objektif

Dia juga menilai adanya pro dan krontra terhadap pembagunan ruamh deret tersebut mungkin kurang berkenan. Karena penjelasan sosialisasi harus lebih ditingkatkan disana. Harus dijelaskan lebih detil kalau mereka nanti dibangun perumahan disana keuntungan yang akan diperoleh.

“Tetapi di lain sisi mereka juga harus melaksanakan pendekatan yang manusiawi dengan pemilik rumah yang sampai dengan saat ini masih agak keberatan untuk dibongkar rumahnya,” terangnya.

Sebut dia, warga yang belum setuju sekitar 15 bangunan. Lebih sedikit dari yang setuju. Tapi kata dia Pemerintah tetap harus menghargai mereka. Walaupun tanahnya milik kota Bandung. ”Jangankan dipindahkan rumahnya, dialihkan tempat tidur, boboko sok hararese. Apalagi ini rumah. Tapi kan setelah ngalih kan betah we, komo lingkungana. Tidak dipaksa. Negosisasi. Kalau dipaksa semuanya tidak setuju. Sebagian besar setuju. Kita mengayomi masyarakat,” pungkasnya. (pan/ign)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here